Bingung mau bikin kue apa ya dari tepung beras yang simpel, ngga ribet. Perjalanan ke dunia maya lewat dengan petunjuk dari Mbah Google akhirnya sampai pada resep satu ini.
Kue ini boleh dibilang masih sodaraan sama kue putu, atau kue dongkal asli betawi. Bahannya relatif sama, cuma media masak dan caranya yang agak beda-beda dikit.
Waktu membuat kue ini, saya di bantu sama asisten terbaik, Zhafi. Dia semangat banget minta ibunya bikinin kue dari tepung beras, karena udah paham kalau dia belum bisa menyentuh kue-kue ala bakery dan snack-snack kemasan ala supermarket apalagi warung karena alerginya.
Dia senang banget waktu mengaduk tepung beras dengan kelapa, lalu mengisi adonan itu ke dalam cetakan bolu kukus. Selesai dikukus, dan Zhafi mencoba, pertama dia mungkin belum terbiasa dengan rasanya, antara gurih dan manis gula jawa. Tapi belakangan dia suka dan mau bawa buat bekal sekolahnya.
Okey ini dia bahannya:
250 gr tepung beras (sebaiknya yang baru digiling)
250 gr kelapa parut
gula merah / gula jawa secukupnya untuk isian adonan
gula putih secukupnya
daun pandan secukupnya
Cara Membuat:
Campurkan tepung beras dan kelapa dalam wadah, tambahkan gula pasir 1 sendok makan.
Siapkan cetakan, lalu isi dengan adonan sampai dengan setengahnya, lalu taruh beberapa irisan kecil gula jawa, dan tutup lagi dengan campuran tepung dan kelapa tadi. Untuk lebih wangi, boleh ditambahkan daun pandan di atasnya. Kukus semua adonan selama kurang lebih 20 menit.
Oh ya, sebelumnya, cetakan diolesi minyak sayur dulu, supaya ketika kue dikeluarkan dari cetakan, tidak lengket.
Boleh deh dicoba. resepnya sumbernya dari sini:
http://www.justtryandtaste.com/2013/05/kue-tepung-beras-isi-gula-merah.html
22 Feb 2014
7 Jan 2014
Kisah Zhafi dan Gangsing Tradisionalnya
Pulang sekolah di hari pertama semester 2, ibu tanya Mas Zhafi.
Ibu: Gimana di sekolah hari ini? Seneng?
Mas Zhafi: he-eh. (mengangguk)
Ibu: Oyah? Apa yang paling bikin mas Zhafi seneng di
sekolah?
Mas Zhafi: Tadi aku dikasih gangsing, dari Mora. Dia dari
Jogja.
Ibu: Oh.. iya yaa.. Mana gangsingnya?
Sesampai di rumah, Zhafi langsung mengeluarkan gangsing dan
mencoba memasangnya.
Tau kan, gangsing yang tradisional itu, yang terbuat dari
bambu. Satu mainan gangsing ini terdiri dari gangsing itu sendiri, tali jemuran
yang di ujungnya diikatkan kayu kecil dan pendek (sekitar 3 cm), dan sebuah
bilah bambu yang ukurannya lebih besar dari kayu kecil tadi (kurang lebih 5 cm).
Pada bilah bambu tadi terdapat lubang di salah satu ujungnya yang dimasuki tali
nilon tipis (yang seperti tali jemuran itu lho). Untuk bisa memutar gangsing
itu, kita harus melilitkan tali jemuran itu ke gangsingnya. Lalu ditarik dengan
cepat dan keras. Si gangsing pun akan berputar dengan indahnya, dan
mengeluarkan suara yang merdu.
Nah... mas Zhafi baru pertama kali memainkan gangsing itu.
Yaa, dulu-dulu banget sih pernah, tapi bukan dia sendiri yang memutarnya. Ayah
atau ibunya yang memainkan, Zhafi hanya melihat. Kali ini, dia mencoba
memainkannya sendiri. Melilitkan tali ke gangsing bukan perkara yang mudah
baginya. Sampai-sampai, dia nyeletuk, “Mainnya sih cepet, tapi masangnya yang
lama, bosen, susah!”
Beberapa kali
mencoba, tali selalu lepas. Kali ketiga mencoba, dia mulai ngambek (ini kok
ibunya banget ya), dan mulai menyalahkan si gangsing malang, “Mainannya jelek!”
Dudududuh... rasanya pengen aja bilang, “ya udah, ga usah
main lagi”. Atau, “ sini ibu aja yang pasang”. But wait!
Kalau dia dibiarkan menyerah di hal-hal kecil seperti ini, dia mungkin juga
akan menyerah terus untuk tantangan yang lebih besar lagi.
Lalu terjadilah obrolan ini:
Ibu: “Kenapa mainannya jelek?”
Mas Zhafi: “Habis susah gitu sih”
Ibu: “Tapi ibu liat anak-anak pada bisa mainin itu, kenapa
ya? Apa mereka langsung bisa? Pasti belajar dulu, dicoba terus, latihan terus”
“Mas Zhafi hanya perlu terus mencoba, sampe bisa”
“Zhafi dulu juga belajar naik sepeda kan ga langsung bisa.
Pertama roda 4, roda 3, terus roda 2. Itu malah butuh waktu lama”
Mas Zhafi: “Iya, tapi ibu aja deh yang pasang!” (masih
ngambek).
Ibu: “Ibu mau bantu
pasang sekali aja. Seterusnya, Zhafi yang coba ya. Kaya si Thomas Alva Edisin
tuh. Dia itu yang menemukan lampu. Karena jasanya, kita sekarang bisa menikmati
cahaya dari lampu. Padahal dulu, Pak Thomas bikin dan merakit lampu itu ga
langsung berhasil. Pertama coba rakit, gagal. Rakti lagi, gagal lagi, rakit
lagi, gagal lagi. Begituu terus sempai berapa kali?
Zhafi: (diem)
Ibu: ngga Cuma 10 kali, tapi 1000 kali malah. Jadi yang
penting, coba terus. Yakin deh, Zhafi juga lama-lama bisa
Zhafi: (masih diem)
Akhirnya, dia mencoba lagi. Pertama ngga mau muter, padahal
udah lumayan berusaha sabar melilitkan kumparan talinya. Dia coba lagi. Dann akhirnya,
satelah sekitar 10an kali mencoba, dia bisa memasang kumparan tali, dan memutarnya
dengan sangat baik. Excellent. Dan Zhafi pun sumringah karena puas bisa bermain
gangsing sendiri.
Katanya, “Zhafi perlu belajar cara gimana supaya lebih cepet
lagi masang talinya”.
Ibu: “Yak... terus latihan, nanti kan terbiasa dan bisa
lebih cepet"
5 Jan 2014
TMII Kali Ini Naik Monorailnya...
Hari terakhir di bulan Desember tahun 2013, kami isi dengan hangout (bahasa kerennya) ke Taman Mini
Indonesia Indah. Yangti dan Yangkung ceritanya ingin ajak cucu-cucunya
main-main, dan Taman Mini yang jadi pilihan. Hmm.... sebetulnya sudah cukup
sering pastinya, dan sudah hampir semua wahana dan titik-titik di TMIiI
dikunjungi, tapi memang ada satu yang belum pernah kami naiki: kereta Aeromovel
atau monorailnya.
Rencana berangkat pagi terpaksa ditunda hingga jam 10.00
karena hujan yang cukup deras sejak malam harinya. Pada jam 10.00 itu, hujan
sudah cukup bersahabat. Perjalanan lancar sekali tanpa macet, karena sepertinya
siang ini semua penghuni Jakarta sedang tidur siang untuk atau istirahat untuk
mempersiapkan energi menyambut malam pergantian tahun. Senangnya... walau sempat
kebablasan ke jagorawi, ngga perlu manyun karena perjalanan tetap mulus tanpa
hambatan.
Sampai di TMII sekitar jam 11.00. dan segera membayar tiket
masuk gerbang sebesar 55.000 rupiah
totalnya (Rp 8.000/orang plus kendaraan Rp 7.000). Tujuan pertama kami adalah
Akuarium Air Tawar. Akuarium airt tawar adalah tempat kita bisa melihat
berbagai jenis ikan air tawar yang terdapat di seluruh nusantara dan dunia.
Untuk bisa menikmati akuarium ini, pengunjung di kenakan tiket seharga Rp
15.000/orang yang sudah termasuk tiket masuk ke Museum Serangga dan Taman
Kupu-Kupu yang bersebelahan dengan Akuarium.
![]() |
| Ikan Arwana sepanjang kurang lebih 1 m |
![]() | |
| Ikan Gajah. Ada belalainya, lho... |
Menarik juga melihat ragam jenis ikan air tawar dengan
berbagai bentuk dan ukuran. Kita bisa melihat ikan yang memiliki
keunikan-keunikan tersendiri. Beberapa di antaranya, ikan gajah yang memiliki
semacam belalai di mulutnya, ikan arwana panjang 1 meter, belut listrik sepanjang 1 meter yang dihubungkan dengan
lampu di atas akuariumnya sehingga ketika belut itu bergerak lampu akan
menyala, juga ikan karnivora yang terkenal itu yaitu piranha.
Kita juga bisa melihat hewan air tawar lainnya seperti
udang-udangan, labi-labi albino (sejenis penyu albino), buaya kura-kura.
Setelah melewati berbagai jenis ikan dan hewan air tawar,
tibalah giliran untuk melihat hal-hal menarik di dalam Museum Serangga dan
Taman Kupu-Kupu. Dunia serangga ternyata sangat unik ya. Setiap famili serangga punya banyak jenisnya. Seperti
replika kawanan kumbang beraneka jenis yang disusun dan terpajang di area pamer
paling depan museum tersebut.
![]() |
| Ragam Kumbang Nusantara |
Sambil melihat-lihat koleksi serangga yang diawetkan itu,
Yangti dan Yangkung asyik membahas nama beberapa serangga itu dalam bahasa
Jawa. Dan Yangkung takjub ketika menemukan serangga sejenis kumbang yang dikenalnya
dengan nama Samber Ilen juga dipajang di situ lengkap dengan namanya dalam
bahasa Jawa. Koleksi serangga tomcat yang beberapa waktu lalu membuat heboh di
Indonesia karena memakan korban, juga dipajang di sana. Ternyata besarnya seperti
nyamuk. Hanya saja, kalau nyamuk kalau hinggap di tangan atau kaki kita, kita
bisa menepuknya sampai mati atau mengeluarkan darah. Tapi, kalau tomcat yang
hinggap, sebaiknya biarkan dia pergi dalam kondisi hidup dan utuh. Caranya
dengan meniupnya atau menyentil/menyeroknya dengan pelan menggunakan kertas.
Supaya kita tidak terkena getah dari tubuh tomcat yang punya zat berbahaya yang
membuat kulit gatal dan melentung hebat.
![]() |
| Kupu-kupu yang diawetkan |
Petualangan di dunia serangga pun berlanjut ke taman Kupu
Kupu. Aih... cantik banget kupu-kupu di dalam sana. Jumlahnya memang tidak
banyak, tapi cukuplah bikin segar pemandangan mata.
Setelah sholat, kami mencari tempat makan langganan sejak
jaman saya masih kecil diajak jalan Yangti Yangkung ke Taman Mini. Pecel
Madiun. Pecel di sini dulu terasa enak sekali, dan hati terasa teduh karena
selalu ada pertunjukan langsung seorang bapak yang memainkan kecapi atau
ibu-ibu yang nyinden. Sempat bingung mencari-cari tempatnya, karena tempatnya
sudah dipindah. Tempatnya yang dulu sudah berganti menjadi anjungan rumah adat
untuk propinsi-propinsi ‘baru’. Dan lokasi si Pecel Madiun ini sekarang
terletak tidak jauh dari Museum Transportasi. Suasananya kurang lebih tidak
banyak berubah, malah mengalami penurunan. Rasa makanannya tidak senikmat dulu.
Dan tidak ada pemain kecapi dan sinden.
![]() | |
| Pemandangan di bangku paling depan aeromovel |
Usai mengisi perut, Zhafi dan Hanan dapat kejutan
menyenangkan. Mereka akan mencoba naik monorail atau kereta Aeromovel. Monorail
ini terdiri dari dua gerbong. Jalannyya tidak teralu cepat. Tapi karena kami dapat
kesempatan duduk di depan, sensasinya terasa seru dan sedikit menegangkan. Dan
yang terpenting rasa penasaran Zhafi dengan monorail sudah terjawab. Lain kali
kita naik monorail beneran yaa... Atau kereta peluru sekalian. TGV di Perancis, atau Shinkansen di Jepang?
Hmmm.... *twink.
25 Des 2013
Suvenir Akhir Tahun dari Monas
Si Sulungku udah libur semester. Dan ibunya ini pun bingung mau kasi kegiatan apa aja ya selama 3 minggu ini. Yangtinya punya ide, diajak naik sado di kawasan Monas. Yaa, sebenernya udah beberapa kali Sulungku ini naik sepupunya sado, Mas Andong yang tinggal di Jogja. Jadi, tujuan terselubung ngajak naik sado mungkin karena Yangtinya penasaran naik kereta berkuda itu di tengah kota metropolitan Jakarta, sekaligus mem-pernah-kan Si Bungsu. Jadi, ibunya bujuk si Sulung, Mas... kamu bisa jadi gurunya Adek. J
Dengan penuh kepercayaan diri dan harapan, kami berempat,
Yangti, Ibu, Mas, dan Adek berangkat ke Monas naik taksi. Sesampainya di
sana... ada agenda terselubung lainnya. Ibu pengen ajak si Mas naik ke puncak
Monas, yang manaaa Ibu sendiri seumur-umur belum pernah!
Tapii apa daya... cita-cita nan mulia harus pupus dan
kandas. Setelah mengitari pinggiran Monas untuk sampai di pintu masuk, seorang
Bapak Petugas menanyakan keperluan kami. Yaa.. anehnya si Bapak, jelas-jelas
kami ke sini mau masuk ke dalam tubuh si Monas. Tapi Bapak itu dengan
berwibawanya bilang kalau hari itu sedang ada jadwal pemadaman listrik dari
PLN. Whatt? Dan ternyata sedang ada renovasi untuk bagian liftnya menuju puncak Monas, yang masih berlangsung sampai tanggal 31 Desember.
Okey... lupakan kami yang tinggal di Jakarta. Tapi demi
melihat segerombolan anak SMP yang ada di sana dan dari percakapan antar mereka
kelihatannya dari luar kota Jakarta, mungkin Sukabumi atau semacamnya (semoga
tidak lebih jauh dari itu), tentunya saya ikut berempati kepada mereka. Jauh-jauh
datang menembus jalanan Jakarta yang terbilang ‘tidak ramah’ karena
kemacetannya, tentunya bukan hal yang menyenangkan. Dan mereka harus menerima
kenyataan kalau mereka ngga bisa masuk ke dalam Monas. Semoga mereka menemukan
tujuan wisata lain.
So... kami memutuskan langsung naik sado. Tapi sebelumnya,
ibu ingin kasih pengalaman naik otopet untuk Si Sulung. Iya, otopet yang banyak disewakan di sekitar
lapangan Monas itu. Yangti tadinya khawatir banget Si Mas ngga bisa jaga
keseimbangan, jadi menyuruh Ibunya untuk berboncengan. Eh... belum sempat Ibunya naik... Si Sulungku itu sudah meluncur dengan cepatnya... Tinggal mulut ini tidak bisa ditahan untuk teriak, “Awaass pelan-pelan” sambil jantung berdeburan karena
khawatir. Tapi demi melihat Si Sulung semakin asik dan santai mengendarai
otopet, sepertinya ngga ada yang perlu dikhawatirkan lagi.
Ada satu peristiwa yang aku amati di sana. Di dalam lapangan Monas tersebut, berdiri tenda-tenda putih. Tampaknya seperti sehabis ada acara
bazar atau pameran. Acara itu sudah selesai, tapi tenda-tenda itu masih banyak
terpasang di sana. Dan di sekelilingnya, ada banyak yang ‘latah’ ikut-ikutan ‘pasang
tenda’. Tenda terpal yang di sambung ke gerobak khas pedagang kaki lima. Ya,
mereka para pencari rezeki yang mengandalkan hidup dari berdagang kaki lima
tersebut seolah mendapatkan momentnya untuk berjualan di dalam lapangan Monas. Tidak
lama, saya baru menyadari... truk-truk yang berdatangan dari tadi adalah truk
milik Sat Pol PP. Bisa ditebak apa yang terjadi?
Dilematis yaa, di satu sisi kasihan dengan para pedagang kaki
lima itu, namun di sisi lain, kalau mereka dibiarkan berjualan dengan bebas
tentu akan mengganggu ketertiban dan keindahan kawasan itu.
Anyway, setelah waktu bermain otopet habis, kami berjalan ke arah
lapangan parkir sambil celingak celinguk mencari kemana gerangan para kereta
berkuda itu. Kok ngga menemukan satu lembar surai kudanya sekalipun.
Akhirnya, kami bertanya kepada seorang ibu pedagang kaki
lima, yang kemudian menjawab dengan logat kental Madura (yang belakangan
kusadari beberapa pedagang dan pencari rezeki di kawasan itu hampir semuanya
berbicara dengan logat Madura). Menurut Bo Abo yang berjualan minuman dingin
itu, belum lama ini Sado sudah ngga diizinkan lagi beroperasi di hari kerja. Hanya
di hari Sabtu dan Minggu aja. Oh...Monas...
Kami senyum-senyum simpul tidak berhasil mewujudkan kedua harapan
kami hari itu, yaitu naik ke puncak Monas dan naik Sado di seputaran Monas. Tapi...
ada suvenir yang kami bawa pulang, sekedar mengingatkan bahwa pada bulan
terakhir di tahun 2013 ini, kami sempat jenguk Monas sebentar, walau hanya
melihat saja. Foto di Monas...
20 Des 2013
Rangkuman School of Co Parenting SCOPE) #2: Generasi Aqil Baligh
Rangkuman dari School of Parenting (Scope) yang
diadakan oleh Sekolah Alam Tangerang (SAT) untuk wali murid SD kelas 1
SAT. Scope dilaksanakan Minggu tanggal 27 Oktober 2013, dengan
pembicara konsultan pendidikan Bapak Adriano Rusfi (Pak Aad).
Kenapa Harus Aqil Baligh?
Ada ungkapan yang pernah diucapkan Bung Karno, yaitu:
“Beri aku 10 pemuda dan akan kuubah dunia”
Tapi tahukah jika bukan pemuda, tapi remaja yang disodorkan, mungkin quotenya akan berubah menjadi:
“Beri aku 1 remaja, dan pusinglah aku dibuatnya.” Hehe...
Beda pemuda dengan remaja:
Pemuda: sudah matang secara fisik dan seksual, juga memiliki pemikiran yang matang, siap mengambil peran dan tanggung jawab, sudah merencanakan kehidupannya, dan sudah mulai bisa mandiri secara finansial.
Remaja: matang secara fisik, tapi masih belum punya rasa tanggung jawab, belum bisa memecahkan masalah atau mengambil keputusan, dan apalagi, masih sangat tergantung secara finansial kepada orangtua, bahkan ada yang sampai menyulitkan orangtuanya.
Ironis memang, tapi itulah fenomena yang muncul akhir-akhir ini dengan kehadiran remaja. (seperti yang sudah disampaikan pada materi SCOPE sebelumnya “Remaja: Dilema dan Petaka”).
Jadi, kenapa harus Aqil Baligh?
1. Aqil dan Baligh adalah 2 sisi dari 1 mata uang
2. Keduanya saling melengkapi
3. Keduanya adalah cerminan keseimbangan antara akal dan nafsu
4. Keduanya adalah kombinasi dari instink dan nurani
5. Baligh sebagai ‘gas’ dan Aqil sebagai ‘rem’
6. Aqil dan Baligh menandakan kematangan paripurna
7. Karena manusia diciptakan mulia, lebih tinggi dari malaikat ataupun hewan.
Problem yang dihadapi kaum remaja, yaitu kelompok usia yang sudah baligh tapi belum aqil adalah, bisa melakukan tapi tidak bisa menanggung resikonya, atau bertanggung jawab atas konsekuensinya. Karena, mereka ini sudah terbit nafsunya, sudah mulai muncul gairah seksualnya, dan mungkin sudah meletup-letup ambisinya, karena sudah mulai mencapai tahapan perkembangan seksual yang menuju matang, tapi belum terbentuk akalnya, moralnya, kemampuan finansialnya, dan spiritualnya. Misalnya, saja yang paling memprihatinkan adalah terjadinya perilaku seks bebas atau zina di usia dini. Contoh lain adalah kasus tawuran antar pelajar, kasus kecelakaan seperti yang dialami Dul alias AQJ, anak dari pasangan musisi Ahmad Dhani dan Maia.
Tentang zina sendiri, jangankan remaja, orang yang sudah dewasa pun bisa tergelincir ke dalam perbuatan ini. Karena Zina tidak bisa diatasi hanya dengan iman, tapi dengan menjauhinya sedapat mungkin. Tidak ayat yang memerintahkan “jangan berzina”, melainkan, “jangan kau dekati zina”. Karena zina terjadi akibat adanya kesempatan pada ruang dan waktu yang tepat, dimana saat itu bahkan iman pun sulit bersaing dengan nafsu yang memang muncul secara alamiah.
Contoh kasus: Seorang guru ‘baik-baik’ kemudian menggauli siswinya yang juga tergolong perempuan ‘baik-baik’.
Dan zina sangat dekat dengan perilaku bunuh-membunuh. Jika situasi sudah terjepit, tak jarang zina berakhir pada kasus bunuh diri, bunuh pasangan zina, atau bunuh janin. Walaupun, ada juga yang pada akhirnya bisa ‘menata’ kembali kehidupan yang lebih baik.
Baligh harus diimbangi dengan Aqil. Jika tidak, maka yang muncul adalah petaka seperti yang dicontohkan di atas. Begitu juga sebaliknya, Aqil harus diimbangi dengan baligh. Jika tidak, maka tidak ada nafsu, tidak ada ambisi untuk maju dan membangun, instink untuk berjuang, dan cita-cita. Karena manusia bukan lah malaikat.
Manusia diciptakan mulia karena akal dan nafsunya. Karena jalan dosa itu perlu ada. Kita berpahala jika kita bisa menahan atau mengendalikan/mengelola diri dari dosa. Pahala disebabkan karena kita tidak melakukan dosa, sebagaimana pengertian dari hukum haram adalah jika dilakukan berdosa dan jika tidak dilakukan mendapat pahala.
Konsep itu bukan berarti kita boleh berbuat salah sama sekali. Berbuatlah salah tapi bukan berbuat dosa. Silakan melanggar, karena salah dan melanggar kaidah umum itu bagian dari terbentuknya kreativitas, tergantung hal apa yang dilanggar.
Kreativitas itu adalah jalan dosa yang dikelola dengan baik. Kreatif, bisa diartikan dengan bagaimana tujuan bisa tercapai tanpa berbuat dosa.
Tantangan Islam adalah melahirkan generasi kreatif. Karena baik saja tidak cukup, harus beda dan kreatif. Banggalah dengan kemanusiaan kita, karena disitulah letak kemuliaannya. Dimilikinya nafsu untuk berbuat, dan akal untuk mengarahkan apa yang akan dibuatnya dan bagaimana mencapainya.
Syari’ah dan Aqil Baligh
1. Syari’ah adalah taklif atau beban. Dibutuhkan kemampuan untuk melakukannya.
2. Syari’ah adalah kombinasi dan keseimbangan antara aturan dan kebijaksanaan
3. Syari’ah adalah ajaran tentang bagaimana aqil mengelola baligh
4. Agar ada syari’at di satu sisi, dan ada akal sehat dan nurani di sisi lain
5. Agar seimbang antara aqil dan baligh
Ya, syariah memang beban, tapi jika aqil terbentuk akan muncul nilai dan pemikiran bahwa, “Allah tidak akan membebankan sesuatu kepada manusia kecuali sesuai dengan kemampuannya.”
Dasar dari munculnya syari’ah adalah bentuk untuk mencintai Allah. Janganlah menjadi hamba shalat, janganlah menjadi hamba puasa, atau hamba masjidil haram. Jadilah hamba Allah, yang dengan cinta kita padaNya kita bersedia untuk dibebankan kewajiban sholat, puasa, naik haji, dan sebagainya.
Dasar dari hukum syari’ah BUKAN MELAWAN hawa nafsu, tapi MENGENDALIKAN/MENGELOLA hawa nafsu.
Tentang fatwa yang dikeluarkan dari lembaga seperti MUI, tentang syar’i atau tidaknya sesuatu, kadangkala bisa menyesatkan. Fatwa tertinggi adalah hati. Karena hakikatnya, kebaikan adalah , apa yang membuat hati tenteram ketika melakukannya, dan keburukan adalah apa-apa yang ketika terbetik dalam hati, tapi tidak ingin diketahui orang lain.
Tantangan Masa Depan
1. Akan banyak informasi yang membutuhkan kemampuan pengambilan keputusan secara akurat. Pengambilan keputusan membutuhkan kemampuan untuk membedakan dan menganalisis 4 hal:
- Apakah penyebabnya
- Apakah pemicunya
- Apakah faktor pendukungnya,
- Apa akibatnya
2. Akan banyak tantangan moral yang membutuhkan pengendalian nafsu.
3. Sebuah era penuh kompetisi yang membutuhkan kematangan
Usia SD adalah usia forming, bukan performing.
4. Sebuah masa pengembangan IPTEK yang menghajatkan kualitas SDM
5. Era kecerdasan emosional, sosial, dan spiritual
Empat fungsi otak:
1. Gudang (tempat penyimpanan informasi)
2. Perpustakaan (sumber referensi yang terorganisasi dengan rapih)
3. Laboratorium (tempat bereksperimen dengan segala sumber informasi yang ada)
4. Production House (tempat mengkreasi produk, ide, gagasan)
Pengertian
Aqil
Dewasa secara akal.
Akal adalah pertautan antara fikiran dan hati, yang menghasilkan pemecahan masalah, pengambilan keputusan, kemampuan berpikir, dan kreativitas.
Baligh
Dewasa secara fisik.
Kematangan seks primer dan sekunder
Berkembangnya naluri dan dorongan primitif
Tempat munculnya instink kehidupan (eros) dan instink kematian (tanathos) – nyali vs keberanian
DISKUSI
1. Tentang kesulitan konsentrasi dan fokus menerima pelajaran pada anak usia SD.
Anak usia SD memang masanya belum bisa fokus atau konsentrasi dalam waktu yang lama. Dan satu hal yang perlu diingat, perkembangan manusia belum mencapai klimaksnya jika masih usia SD, sehingga sangat mungkin nanti bisa berubah dan diubah.
2. Tentang apakah parameter aqil?
Aqil dapat dikenali dengan 3 ciri:
a. Mampu bertanggung jawab
Dapat dilatih dengan cara, memberikan tanggung jawab secara bertahap, dimulai dari tugas kecil, lalu serangkaian tugas atau satu set pekerjaan. Misal, “tolong jaga adik, agar adik tetap aman dan nyaman sampai ayah bunda pulang.”
b. Mampu mandiri, baik secara self help, maupun finansial
Anak dapat dilatih mencari uang sendiri dengan cara memberikannya tugas diluar tugas rutin/hariannya, dan berikan imbalan berupa uang.
c. Mampu mengambil keputusan dengan akurat (atau mendekati akurat)
Latih anak untuk menentukan atau keputusan-keputusan dalam keluarga, misal: kakak mau menu apa buat besok. Atau kita mau pergi jalan-jalan ke mana hari ini? Bisa kita sempitkan pilihan dan biarkan anak yang menentukan. Atau anak yang menyodorkan pilihan, dan orangtua yang memilih.
3. Tentang hubungan kakak adik sebagai partner belajar dalam kehidupan
Didik anak pertama sebaik mungkin, agar si sulung mampu mendidik dan mengajari adik-adiknya. Karena kakak dan adik adalah partner belajar paling pas untuk belajar tentang kehidupan. Jika mereka bertengkar, itu adalah proses belajar mereka yang unik. Dari pertengkaran kakak adik (sepanjang itu wajar), masing-masing belajar tentang menghadapi kehidupan.
4. Tentang saudara sekandung yang berebut warisan hingga mengalami gangguan kejiwaan
Ada banyak hal yang bisa menyebabkan seseorang mengalami gangguan kejiwaan atau psikosis. Dalam hal ini, salah satunya bisa disebabkan karena belum tuntasnya tahapan perkembangan sebelumnya. Pembentukan individuasi, keakuan, egosentrisme, yang seharusnya muncul dan dikembangkan di usia SD harus dituntaskan di masa itu. Jika ditekan, atau tidak selesai, akan menjadi ‘hutang’ dan akan muncul di tahapan usia yang lebih tua, dan efeknya sangat buruk.
5. Tentang kecepatan anak yang berbeda, dan bagaimana guru dan orangtua menyikapinya
Setiap anak punya gaya kecepatan yang berbeda. Ada yang bertipe sprinter, ada yang bertipe marathon, ada yang berubah antara sprint dan marathon. Dalam menyikapinya, disesuaikan dengan gaya kecepatan anak. Dari sekolah sendiri, di siasati dengan sistem sentra, dan menggabungkan anak-anak sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya.
18 Des 2013
Resensi 99 Cahaya di Langit Eropa
Sama sekali ngga ada niat mau beli buku ini, tadinya. Well,
sempat melirik demi melihat kata Eropa. Awalnya aku ngga mau beli karena
keterbatasan budget. Tapi sewaktu akan membayar buku Rantau 1 Muara, dan
melihat buku itu di meja kasir—yang kelihatannya lagi gencar dipromosikan
bersamaan dengan sedang tayangnya film berjudul sama di bioskop--, saya ngga
bisa menahan diri untuk membelinya. Bulu roma merinding, mungkin karena saya merasa buku ini mewakili impian saya jalan-jalan ke Eropa. Ternyata bukan sekedar tentang jalan-jalan ke Eropa yang didapat, tapi pelajaran sejarah yang enak dibaca. Sejarah yang makin membukakan mata saya tentang Islam yang rahmatan lil 'alamin.
Review saya tentang buku ini bisa dilihat di Booworm's Shelf
8 Des 2013
Jujur Itu Sederhana
Pagi ini, Si Bungsu tertarik dengan keramaian suara lagu
anak-anak di pasar. Semakin tertarik ketika tahu suara lagu itu berasal dari
wahana kereta-keretaan yang digelar setiap Minggu pagi di area pasar dekat
rumah kami. Si kecil menarik-narik tangan saya ke sana, mengajak untuk melihat.
Iya, hehe.. melihat. Karena dia tidak tertarik untuk menaiki wahana itu. Dia
hanya suka melihat dan mendengarkan lagu-lagunya, sambil sesekali berjoget dan
bertepuk tangan. Awalnya, saya hanya melihat pemandangan itu sebagai
pemandangan biasa. Tapi... fokus saya kemudian tertuju pada abang-abang yang
memiliki wahana itu, yang mengendalikan jalan dan berhentinya si kereta, yang
memperhatikan ‘keselamatan penumpang-penumpang kecilnya’ dengan memakaikan sabuk
pengaman sederhana, dan yang menerima uang-uang receh 2000an sebagai pengganti
jasa hiburan kereta mini itu.
Di zaman sekarang ini, terutama di negara ini, saat semakin
banyak orang mencari uang dengan cara yang aneh, tidak masuk akal, bahkan
memakan jatah orang lain seperti mengkorupsi, bagi saya cara si abang-abang ini
jauh lebih masuk akal, lebih lazim, dan lebih jujur. Si abang-abang ini tentu
tidak bisa mengharapkan mendapat uang lebih dari Rp 2,000 setiap anaknya,
paling banyak Rp 5,000 atau Rp 10,000. Itu kalau si anak mungkin ditinggal
kelamaan ibunya ke pasar saking asiknya belanja :P.
Tapi itulah cara yang dipilih si Abang-abang ini untuk
menjemput rezekinya. Tidak dengan cara lain yang tidak jujur.
Di kesempatan itu juga, saya melihat moment yang dalam
pikiran saya, itu adalah peluang terjadinya kejujuran atau ketidakjujuran.
Seorang bapak yang menitipkan anaknya di kereta-keretaan itu, tidak punya uang
kecil. Ketika akan membayar dengan selembar uang 50 ribuan --karena sepertinya
hanya uang itu yang dibawanya-- dan si Abang tidak punya kembalian, si Bapak
minta waktu untuk mencari uang kecil, tentunya dengan membawa anaknya tadi.
Saya rasa, bisa saja si Bapak itu kemudian tidak kembali untuk memberikan uang
jasa kepada si Abang. Tapi.. si Abang toh percaya.... dan si Bapak memang
kembali.
Kala itu... dalam peristiwa sederhana itu, saya bersyukur,
masih banyak kejujuran-kejujuran kecil yang bisa saya temui di sekitar saya. Seringkali
saya selalu terfokus pada ketidakjujuran orang lain (baca:koruptor), dan
melupakan bahwa di sekitar saya masih ada hal baik dan positif yang bisa diapresiasi.
Semoga dari apresiasi-apresiasi positif itu bisa berkembang menjadi pikiran dan
energi positif di setiap kehidupan.
4 Des 2013
#lessonoftheday
Ketika anak melakukan perbuatan yang dianggap mengecewakan diri, tanyakan dulu apakah diri ini melakukan hal yang sama kepada orangtua. #lessonoftheday
Kenangan Indah Masa Kecil
Mengingat-ingat masa kecil... ada beberapa pengalaman indah yang cukup berkesan bersama Bapak dan Ibu.
Waktu kecil, saya paling seneng ketika makan malam, bapak atau ibu menawari saya duduk di tengah tengah mereka. Kursi makan Bapak dan Ibu didempetkan, lalu saya duduk di antara mereka. Rasanya menyenangkan sekali. Kalau diingat-ingat dan dipikir-pikir, apa ya yang bikin saya segitu senang dan berkesannya pengalaman itu. Saya baru dapat jawabannya setelah saya dewasa. Setelah saya belajar di parent class yang saya ikuti di sekolah Zhafi. Ada satu quote yang saya ingat dari salah seorang pembicara, “hadiah terindah bagi anak adalah hubungan yang mesra dan kompak antara Ayah dan Ibu”. Dan quote yang lain lagi, “sentuhan bicara 1000 kali lebih banyak dari pada kata-kata ‘Mama sayang kamu’”.
Beberapa minggu terakhir ini, kalau kami jalan berempat (Ayah, Ibu, Mas Zhafi, Hanan), si kecil sering minta jalan digandeng ayah dan ibu. Dia berada di tengah-tengah. Saya berpikir... mungkin... apa yang dia rasakan sama dengan yang saya rasakan dulu ketika di meja makan (saat kecil dulu).
Pengalaman lainnya,
Saya selalu senang mengingat pengalaman waktu kecil ketika ibu membuat kue-kue kering. Saya girang ketika dipersilakan mencetak kue-kue itu dengan cetakan yang lucu-lucu, menghiasnya dengan pasta coklat di atasnya. Saya tidak ingat apakah ibu marah atau tidak dengan hasil cetakan kue saya yang belepotan. Karena pengalaman memasak bersama itu sangat menyenangkan.
Hal lain yang saya ingat, adalah serunya belanja bersama ibu sepulang sekolah. Beberapa kali seminggu, sepulang dari menjemput saya dan adik dari sekolah, saya diajak ke supermarket dan berbelanja. Kenangan tentang berbelanja itu kadang-kadang bikin kangen Ibu, terutama ketika jauh :)
28 Nov 2013
The Fun At The Bento Class
Hari ini seru juga. Ikutan kelas bento bareng pengusaha cake
decorating, bunda Peni Respati. Baru kali ini ikutan belajar masak bareng.
Seru... sama ibu-ibu yang berprofesi tetap sebagai ‘pengantar anak sekolah’
hihi...
Bento class kali ini simple aja. Sebenernya ngga susah, ngga
perlu bahan yang mahal. Walaupun banyak juga bento dibikin lebih menarik dengan
alat dan bahan yang lumayan mahal harganya. Tapi prinsipnya sih, apa yang kita
punya, bisa dikreasikan untuk bento anak. Tidak perlu pake acara mendesain,
membuat list bahan dan alat, memasak yang heboh. Kalau berpikir seperti itu,
memasak bento bisa jadi pekerjaan berat bagi ibu yang tidak biasa.
Walau hasilnya sederhana, tapi... ilmu dan prinsip membuat
bento ini, sangat bermanfaat. Pesannya, supaya bekal anak lebih menarik dan
anak pun tertarik untuk memakan menu yang biasanya tidak disukai anak, seperti
sayur atau buah.
Langganan:
Postingan (Atom)
What Is Your Passion?
Quote yang paling menginspirasi: "I am stronger than my excuses".








