Berdiskusi dengan suami....
Surah Al Lail itu dahsyat...
Bayangkan, Allah sebagai Sang Pencipta,
Pemilik Jagat raya
Pemilik Awal dan akhir
Pemilik segala sesuatu
Bersumpah....
Bersumpah demi sesuatu yang diciptakanNya sendiri.
Bahwa setiap pribadi akan mendapatkan ganjaran atas perbuatannya sendiri
Padahal untuk apa Dia harus bersumpah,
Padahal Dia bisa saja dengan kehendakNya menjadikan sesuatu itu terjadi, tanpa harus bersumpah...
Wallahu a'lam.
"Demi malam apabila menutupi (cahaya) siang
Demi siang apabila terang benderang
Demi penciptaan laki-laki dan perempuan
Sungguh, usaha manusia beraneka macam
Maka, barangsiapa yang memberikan (hartanya di jalan Allah),
Dan membenarkan akan adanya pahala terbaik (surga),
Maka akan dimudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan).
Dan barangsiapa yang kikir dan merasa cukup (tidak perlu pertolongan Allah),
Dan mendustakan pahala terbaik,
Maka akan dimudahkan jalan baginya menuju kesengsaraan
Dan hartanya tidaklah bermanfaat baginya ketika dia binasa
Sesungguhnya, Kamilah yang memberi petunjuk
Dan sesungguhnya, Kamilah yang memiliki akhirat dan dunia
Maka aku peringatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala
Yang hanya dimasuki oleh orang yang paling celaka
Yang mendustakan kebenaran dan berpaling dari iman
Dan akan dijauhkan dari neraka, orang-orang yang paling bertakwa
Yang menginfakkan hartanya di jalan Allah untuk membersihkan dirinya
Dan tidak ada seorangpun memberikan nikmat padanya yang harus dibalasnya
Dan dia memberikannya tidak lain karena mengharapkan ridho dari Tuhannya Yang Maha Tinggi
Dan niscaya baginya kelak dia akan mendapatkan kesenangan yang sempurna"
22 Jan 2013
10 Okt 2012
Bersyukur Pangkal Sehat
Judul yang aneh. Tapi menurut saya, kunci dari orang yang sehat itu ya bersyukur. Dengan bersyukur dia ngga mudah dirisaukan oleh masalah, dan hatinya ngga pernah dibiarkan terlalu lama gundah, sedih, kecewa, atau marah. Semua emosi seperti itu kalau dibiarkan tanpa diselesaikan bisa berakibat ngga baik buat kesehatan. Orang gampang marah gampang kena penyakit. Orang yang terlalu sedih juga sama. Orang galau? Ya asal ga terlalu lama dipelihara galaunya, semoga sih ngga papa yah…
Setiap kali membuka facebook, dan membaca status-status para ‘friends’ di wall, kadang merasa beruntung, kadang merasa prihatin, dan kadang merasa ikut bahagia. Dari status-status itu, positifnya, kita bisa tau apa kabar terbaru dari teman yang sudah lama ngga kontak. Ada yang baru melahirkan, ada yang keterima beasiswa ke luar negeri, ada yang lagi menikmati masa studi di Eropa, atau sekedar tau si A sudah berganti status relationship. Ketika berita bahagia, ikut bahagia. Ketika mendapati berita kurang bahagia seperti berita duka, ikut berbelasungkawa dan mendoakan.
Kadang merasa beruntung sekali, ketika buka FB, mendapati status berisi doa yang gue banget, atau kata-kata penyemangat yang pas banget, atau ada yang sharing tips yang kebetulan lagi dibutuhin banget.
Cuma, kadang ngerasa prihatin, kalau nemu status yang ngeluh.
Jadi inget, kalau dari pengalaman pribadi….sebenarnya ada banyak yang saya sesali. Sepanjang hidup, saya sering lupa bersyukur dan banyakan ngeluhnya. Terutama waktu jaman masih ABG, masih labil, masih egosentris, dan belum banyak pengalaman hidup dan pemahaman tentang kehidupan.
Jadi sepanjang hari selalu ada yang dikeluhkan, tapi giliran hidup mulus-mulus aja, lupa untuk bersyukur. Baru bilang alhamdulilllah kalau ada yang ngasih hadiah atau uang, atau sesuatu yang benar-benar diharap-harapkan. Padahal, tanpa dikasih uang, dan tanpa dikasih hadiah, bisa bangun dan bernafas itu udah nikmat dan Alhamdulillah. Bisa sampai dengan selamat sampai sekolah atau tempat kuliah, sementara jumlah kecelakaan akhir-akhir ini sering bertambah, itu juga kan sesuatu banget.
Waktu baru-baru nikah dulu, juga tiap hari gak lepas dari mengeluh. Penghasilan belum bisa diandalkan, rumah masih ngontrak..wah…adaa aja deh yang mau dikeluhin. Lupa kalau tiap hari tuh masih punya tenaga untuk kerja, masih tidur terlindung di bawah atap. Trus, apa sekarang udah ngga pernah ngeluh? Hehe, masih…Cuma langsung inget lagi, introspeksi lagi…. Dan mencoba untuk ikhlas dan tetap bersyukur, walau ngga selalu mudah.
Jadi kalau keliatanya atau ngerasanya hidup itu ga adil, nyebelin atau apa lagi sebutannya, saran saya sering-sering deh hangout ke rumah sakit, atau ke panti asuhan. Lho kok hangoutnya ‘ngga banget ya’, hehe. Tapi dijamin deh, kalau ngeliat orang yang terbaring sakit entah karena patah tulang, atau karena stroke, atau karena penyakit berat lainnya. Atau ngeliat adek-adek kita yang ngga punya orang tua, semoga itu membuat kita semakin sadar betapa kita masih jauh lebih beruntung. Masih jauh lebih banyak yang bisa kita syukuri ketimbang sibuk dengan sesuatu yang belum atau ngga kita dapatkan. Dan masih banyak yang masih bisa kita berikan atau bagikan ke orang-orang tersebut.
Bersyukur ngga Cuma bilang Alhamdulillah terus udah. Bersyukur itu tindakan. Alhamdulillah kita masih dikasih sehat, lalu kita pelihara supaya badan tetap sehat, makan makanan yang sehat, ajak olahraga, dan manfaatkan badan yang sehat untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat. Alhamdulillah bisnis mulai berkembang, dan dagangan udah mulai laku, sisihkan sebagian buat sedekah. Alhamdulillah …and do something with it.
Bahkan tetap bersyukur meski dalam keadaan terburuk sekalipun. Karena kita Cuma punya dua pilihan, ngeluh --dan dunia akan menjadi semakin gelap di mata kita, dan Tuhan pun ngga menyukai orang yang ngga bersyukur; atau bersyukur --makan dunia akan terlihat lebih indah dan Allah semakin menyukai kita karena kita bersabar dan pandai bersyukur….
21 Jun 2012
Tips Berwisata Ala Backpacker
Tips Berwisata Ala Backpacker
Saat ini semakin banyak orang melakukan liburan ala backpacker. Alasan utama melakukan liburan ala backpacker
adalah bisa menyambangi banyak tempat wisata dengan biaya ekonomis
sambil tetap bersenang-senang. Tapi bagi yang belum pernah, mungkin akan
mengalami beberapa hal yang membuat bingung. Ada beberapa tips untuk
memulai liburan ala backpacker:
Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan untuk bisa berlibur ala backpacker, terutama bagi pemula.
- Sebagai backpacker pemula yang ingin mengunjungi tempat-tempat di luar Indonesia, bisa memulainya dengan berkunjung ke negara-negara tetangga di Asia Tenggara.
- Mempelajari negara yang akan dikunjungi terlebih dulu, dengan mencari informasi dari internet, brosur, atau dari komunitas sesama backpacker.
- Terus memonitor informasi tentang tiket pesawat promo dan termurah
- Menyelesaikan semua urusan dokumen seperti paspor, visa, dan lainnya. Dan ketika bepergian nantinya, semua dokumen tersebut dijadikan dalam satu tas yang menempel di tubuh.
- Membawa uang seperlunya.
- Mempertimbangkan masak-masak sebelum berbelanja oleh-oleh. Dengan kondisi membawa ransel kemana-mana, menenteng tas penuh berisi oleh-oleh sangat tidak menguntungkan. Terutama karena bawaan tambahan akan membutuhkan tenaga lebih untuk membawanya, juga ruang yang lebih sempit jika sedang menaiki angkutan umum.
- Membawa pakaian, perlengkapan pribadi, dan barang-barang seperlunya. Daftar barang wajib berupa pakaian (sesuaikan dengan musim), obat-obatan pribadi, kamera, selimut/sleeping bag, dan peta negara tujuan.
Dengan bermodal tas ransel dan minus
koper, tentunya harus memikirkan baik-baik apa saja yang perlu dan tidak
perlu untuk dibawa. Karena dengan ruang yang terbatas, kita tidak bisa
membawa pakaian berlebihan. Malah disarankan untuk membawa beberapa
potong pakaian saja yang bisa digunakan untuk beberapa kesempatan, dan
mudah kering bila dicuci. Sehingga tidak menghabiskan tempat untuk
pakaian saja.
Jaket dan selimut adalah salah satu perlengkapan wajib yang harus dibawa. Karena bepergian ala backpacker, seorang backpacker
tidak akan selalu mendapatkan tempat penginapan murah yang nyaman,
Selimut bisa menjadi pengganti alas atau bantal sesuai kebutuhan.
Perlengkapan lain yang perlu dibawa adalah peta, yang akan memudahkan
untuk mencapai tempat tujuan.
15 Apr 2012
Peluang Bisnis
Peluang Bisnis Buat Anda Yang Ingin Benar-Benar Berhasil
Banyak peluang bisnis bertebaran menawarkan keuntungan cepat dan berlipat. Tapi bersikap hati-hati dalam menentukan pilihan peluang bisnis sangat perlu. Paling tidak, persiapkan mental Anda karena memulai bisnis dalam peluang bisnis apapun butuh investasi waktu, pikiran, dan mungkin uang (bisa besar atau kecil, tergantung) terutama di awal-awal menjalankannya.
Banyak yang tergiur dengan peluang bisnis yang menjanjikan kaya dengan cepat, tapi kemudian kecewa dan berhenti karena tidak menduga betapa banyak rintangan atau tantangan yang harus dihadapi. Padahal, peluang bisnis apapun, betapapun menggiurkannya, jika dijalankan sambil setengah lalu, atau malau dicuekin, tetap saja tidak menghasilkan atau mati enggan hidup tak mau.
Itulah pentingnya mental pengusaha, mental entrepreneur, mental tahan banting, mental tidak berputus asa, bersabar, optimis, dan banyak berdoa penting dimiliki oleh siapapun yang sedang menjalankan usaha.
Bagi pemula, lebih baik memilih peluang bisnis yang memiliki sistem pemasaran yang mudah diikuti dan dibimbing oleh mentor. Lebih baik pula jika pebisnis pemula mengikuti banyak training yang memberikan pembelajaran dari mulai membentuk mental optimis, bagaimana berpromosi, bagaimana memasarkan, bagaimana membina hubungan baik dengan pelanggan, karyawan, dan partner kerja.
Anda ingin tahu banyak tentang peluang bisnis yang cocok untuk pemula?
Peluang bisnis yang saya tawarkan ini layak Anda ikuti, karena
- Modal awal relatif kecil
- Biaya operasional relatif kecil
- Dijalankan secara online, karena terdapat fasilitas pendukungnya yang sangat lengkap
- Memberikan peluang penghasilan yang terus meningkat
- Peluang mendapatkan reward berupa jalan-jalan gratis ke luar negeri dan mobil idaman
- Sudah ada mentornya, yaitu leader yang selalu memberikan aneka training-training secara gratis, yang bisa diikuti secara online maupun offline. Termasuk ahli di bidang internet marketing
- Aneka training gratis (termasuk belajar internet marketing) untuk mengoptimalkan usaha Anda mengembangkan bisnis
- dan banyak kelebihan lainnya.
Atau kontak saya via E-MAIL
17 Feb 2012
Koleksi Bandana / Ciput Faira
![]() |
| bandana BN 161 |
Rp 30.000
Bahan kaos spandek dengan aplikasi bordir jahit yang memukau![]() |
| bandana BN 160 |
Rp 30.000
bahan kaos spandek dengan aplikasi bordir jahit
![]() |
| bandana BN 143 |
Rp 30.000
bahan kaos spandek dengan aplikasi bordir jahit
![]() |
| bandana BN 174 |
Rp 30.000
bahan kaos spandek dengan aplikasi bordir jahit
![]() |
| bandana BN 175 |
Rp 30.000
bahan kaos spandek dengan aplikasi bordir jahit
![]() |
| Bandana BN 144 |
![]() |
| Bandana BN 145 |
![]() |
| Bandana BN 146 |
3 Feb 2012
Resep - Ayam Kayu Manis
Saya bukan jago masak, tapi lumayan lah bisa dikit-dikit... :)
Ini resep didapet di waktu pagi. Niat bikin semur tapi ternyata kehabisan kecap. Sudahlah pakai bumbu yang ada saja, cemplang-cemplung, eh...enak juga :)
Bahan:
1 ekor ayam (pilih yang pejantan, jangan broiler ya)
8 butir bawang merah yang kecil
1 siung bawang merah besar atau 1/4 bawang bombay
kayu manis sedikit aja
1 blok gula jawa
1 lebar daun salam
garam secukupnya
Cara memasak:
1. Rebus ayam setelah setengah matang, air dibuang dan ganti dengan air baru
2. Setelah mendidih, masukkan bawang-bawang, garam, dan daun salam. aduk-aduk.
3. Masukkan gula, dan kayu manis. Lalu biarkan mencair gulanya.
4. Masak sampai ayam empuk
5. Sajikann ...
Kenapa pilih ayam pejantan. Kalau beli di su**rin*o, ada tuh ayam pejantan negeri. Kelihatan ngga terlalu montok. Jadi kemungkinan lemaknya juga ngga banyak. Beda sama broiler yang memang keliatan gede, tapi juga banyak lemak dan rada parno juga sama kolesterolnya. (only my two centes)
Kalau ada yang mau coba, silakan ya...kasih masukan juga gimana supaya lebih sedep lagi rasanya (selain dengan vetsin tentunya ^^)
Ini resep didapet di waktu pagi. Niat bikin semur tapi ternyata kehabisan kecap. Sudahlah pakai bumbu yang ada saja, cemplang-cemplung, eh...enak juga :)
Bahan:
1 ekor ayam (pilih yang pejantan, jangan broiler ya)
8 butir bawang merah yang kecil
1 siung bawang merah besar atau 1/4 bawang bombay
kayu manis sedikit aja
1 blok gula jawa
1 lebar daun salam
garam secukupnya
Cara memasak:
1. Rebus ayam setelah setengah matang, air dibuang dan ganti dengan air baru
2. Setelah mendidih, masukkan bawang-bawang, garam, dan daun salam. aduk-aduk.
3. Masukkan gula, dan kayu manis. Lalu biarkan mencair gulanya.
4. Masak sampai ayam empuk
5. Sajikann ...
Kenapa pilih ayam pejantan. Kalau beli di su**rin*o, ada tuh ayam pejantan negeri. Kelihatan ngga terlalu montok. Jadi kemungkinan lemaknya juga ngga banyak. Beda sama broiler yang memang keliatan gede, tapi juga banyak lemak dan rada parno juga sama kolesterolnya. (only my two centes)
Kalau ada yang mau coba, silakan ya...kasih masukan juga gimana supaya lebih sedep lagi rasanya (selain dengan vetsin tentunya ^^)
25 Sep 2010
Sikap Orangtua yang Salah
Kepercayaan diri yang dimiliki seseorang tidak tumbuh dalam semalam.
Kepercayaan diri terbentuk akibat interaksi dari kapasitas pribadi
dengan lingkungan. Elemen yang berperan penting untuk pembentukan
kepercayaan diri adalah lingkungan yang paling pertama ditemuinya dalam
kehidupannya. Yaitu rumah (red: keluarga atau pengasuh atau orang tua),
baru kemudian lingkungan masyarakat atau sekolahnya.
Dorongan positif dari keluarga atau dalam pengasuhan sangat diperlukan dalam proses pembentukan rasa percaya diri yang permanen. Memberi dorongan adalah suatu seni, bukanlah teknik yang baku, tapi bisa dilatih. Ada batasan-batasan atau panduan garis besar dalam memberikan dorongan yang tepat dan efektif untuk anak. Tapi memberi dorongan kepada anak merupakan sebuah seni tersendiri. Butuh sedikit kreativitas selain juga orangtua harus juga mengerti karakter dan sifat si anak.
Namun seperti yang ditulis oleh Dorothy Law Nolte dalam bukunya "Children Learn What They Live", ada 4 hal yang mungkin sering dilakukan para orang tua pada umumnya yang justru tidak mendukung terbentuknya rasa percaya pada kemampuan dirinya.
Yaitu:
1. Mementingkan hasil, bukan proses belajar.
Orang tua ingin melihat anaknya memperoleh hasil yang bagus. Seringkali kemudian orang tua terdorong untuk membantunya secara langsung. Padahal bukan itu yang dibutuhkannya (walau mungkin saat itu dia menginginkannya). Tetapi seorang anak sedang mengetes kemamppuannya sendiri dan biarkan dia berpikir bahwa ia bisa melakukannya. Dia perlu membangun keyakinan bahwa ia bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan yang ingin dia lakukan.
2. Berkata "Coba saja kamu lakukan".
Pernyataan ini tidak memacu anak untuk menyelesaikan pekerjaan yang mereka mulai, karena tuntutan dari orang tua hanya mencoba. orang tua perlu menuntun mereka untuk memberikan usaha terbaiknya dalam melakukan sesuatu. Sehingga doronglah anak dengan pernyataan "Lakukan yang terbaik".
3. Bersikap protektif terhadap anaknya.
Orang tua bersikap protektif untuk keselamatan fisik dan psikologisnya. Tidak ada yang salah dengan itu. Hanya saja anak perlu diberikan pengalaman untuk merasakan semua perasaan negatif sejauh itu sesuai dengan kemampuan dirinya. Biarkan anak merasakan kegagalan dan belajar bagaimana mengatasinya. Orang tua yang kemudian memastikan bahwa akan selalu mendampinginya di saat anak sedang berjuang mengatasinya.
4. Orang tua menentukan cita-cita yang harus diraih anaknya.
Mungkin karena kegagalan orang tua meraih keinginannya di masa lalu, membuat orang tua menaruh harapan terlalu besar pada anaknya untuk bisa menggantikannya. Jika terlalu memaksakan kehendak pada anak, mungkin saja anak akan merasa frustrasi. Orang tua perlu membukakan wawasan bagi anak dan memberi ruang seluasnya bagi anak untuk menentukan visinya sendiri.
Dorongan positif dari keluarga atau dalam pengasuhan sangat diperlukan dalam proses pembentukan rasa percaya diri yang permanen. Memberi dorongan adalah suatu seni, bukanlah teknik yang baku, tapi bisa dilatih. Ada batasan-batasan atau panduan garis besar dalam memberikan dorongan yang tepat dan efektif untuk anak. Tapi memberi dorongan kepada anak merupakan sebuah seni tersendiri. Butuh sedikit kreativitas selain juga orangtua harus juga mengerti karakter dan sifat si anak.
Namun seperti yang ditulis oleh Dorothy Law Nolte dalam bukunya "Children Learn What They Live", ada 4 hal yang mungkin sering dilakukan para orang tua pada umumnya yang justru tidak mendukung terbentuknya rasa percaya pada kemampuan dirinya.
Yaitu:
1. Mementingkan hasil, bukan proses belajar.
Orang tua ingin melihat anaknya memperoleh hasil yang bagus. Seringkali kemudian orang tua terdorong untuk membantunya secara langsung. Padahal bukan itu yang dibutuhkannya (walau mungkin saat itu dia menginginkannya). Tetapi seorang anak sedang mengetes kemamppuannya sendiri dan biarkan dia berpikir bahwa ia bisa melakukannya. Dia perlu membangun keyakinan bahwa ia bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan yang ingin dia lakukan.
2. Berkata "Coba saja kamu lakukan".
Pernyataan ini tidak memacu anak untuk menyelesaikan pekerjaan yang mereka mulai, karena tuntutan dari orang tua hanya mencoba. orang tua perlu menuntun mereka untuk memberikan usaha terbaiknya dalam melakukan sesuatu. Sehingga doronglah anak dengan pernyataan "Lakukan yang terbaik".
3. Bersikap protektif terhadap anaknya.
Orang tua bersikap protektif untuk keselamatan fisik dan psikologisnya. Tidak ada yang salah dengan itu. Hanya saja anak perlu diberikan pengalaman untuk merasakan semua perasaan negatif sejauh itu sesuai dengan kemampuan dirinya. Biarkan anak merasakan kegagalan dan belajar bagaimana mengatasinya. Orang tua yang kemudian memastikan bahwa akan selalu mendampinginya di saat anak sedang berjuang mengatasinya.
4. Orang tua menentukan cita-cita yang harus diraih anaknya.
Mungkin karena kegagalan orang tua meraih keinginannya di masa lalu, membuat orang tua menaruh harapan terlalu besar pada anaknya untuk bisa menggantikannya. Jika terlalu memaksakan kehendak pada anak, mungkin saja anak akan merasa frustrasi. Orang tua perlu membukakan wawasan bagi anak dan memberi ruang seluasnya bagi anak untuk menentukan visinya sendiri.
3 Mar 2010
Pengalaman Pertama Anak Masuk Sekolah

Pengalaman memasuki dunia pra sekolah untuk pertama kalinya bagi setiap anak bisa
berbeda. Beberapa anak ada yang dapat dengan mudah menyesuaikan diri
bergabung dengan guru dan anak-anak lain, sementara banyak anak yang
merasa tidak nyaman atau takut dan butuh waktu yang lebih lama untuk
menyesuaikan diri.
Ini adalah bagian dari keunikan setiap anak. Beberapa anak ada yang memiliki temperamen ceria atau, sebaliknya, temperamen pemalu yang dibawa sejak lahir. Tanpa perlu merasa terpaku dengan 'garis takdir' itu, yang terpenting buat orangtua untuk disadari adalah bagaimana orangtua mengenalkan situasi sekolah pada si anak dengan benar.
Situasi sekolah yang cenderung lebih formal, dengan kegiatan terjadwal bersama, dan adanya orang-orang 'asing' di sana, adalah hal yang sama sekali baru untuk si anak usia 3-5 tahun. Orangtua atau pengasuh perlu memperkenalkan situasi baru ini kepada anak secara bertahap. Untuk anak yang 'outgoing', orangtua bisa menungguinya di sekolah selama 3 hari atau kurang, untuk memberi waktu bagi si anak merasa nyaman dengan lingkungan barunya.
Tetapi beberapa anak butuh waktu lebih lama untuk merasa nyaman. Bersabarlah dan berikan tambahan waktu buatnya. Sambil terus meyakinkannya bahwa sekolah, teman, dan guru adalah tempat bermain yang menyenangkan. Pahami dan sadari juga, bahwa perasaan orangtua juga berpengaruh pada perasaan anak. Jika orangtua merasa cemas dan takut anaknya tidak mampu menyesuaikan diri di lingkungan sekolahnya, anak akan dapat melihat dari ekspresi orangtuanya, dan berpikir sekolah adalah hal yang menakutkan. Kalau sudah menyadari hal ini, orangtua perlu mengingat kembali bahwa setiap anak unik dan mempelajari sesuatu dengan kecepatan mereka masing-masing, termasuk belajar bersosialisasi. Selama orangtua memberi pemahaman dan keyakinan yang benar pada anak tentang betapa menyenangkannya sekolah, lambat laun anak akan merasa nyaman untuk memulai hari-harinya di sekolah playgroupnya.
Foto: bradford.gov.uk/bmdc/education_and_skills/pre-school_learning/
Ini adalah bagian dari keunikan setiap anak. Beberapa anak ada yang memiliki temperamen ceria atau, sebaliknya, temperamen pemalu yang dibawa sejak lahir. Tanpa perlu merasa terpaku dengan 'garis takdir' itu, yang terpenting buat orangtua untuk disadari adalah bagaimana orangtua mengenalkan situasi sekolah pada si anak dengan benar.
Situasi sekolah yang cenderung lebih formal, dengan kegiatan terjadwal bersama, dan adanya orang-orang 'asing' di sana, adalah hal yang sama sekali baru untuk si anak usia 3-5 tahun. Orangtua atau pengasuh perlu memperkenalkan situasi baru ini kepada anak secara bertahap. Untuk anak yang 'outgoing', orangtua bisa menungguinya di sekolah selama 3 hari atau kurang, untuk memberi waktu bagi si anak merasa nyaman dengan lingkungan barunya.
Tetapi beberapa anak butuh waktu lebih lama untuk merasa nyaman. Bersabarlah dan berikan tambahan waktu buatnya. Sambil terus meyakinkannya bahwa sekolah, teman, dan guru adalah tempat bermain yang menyenangkan. Pahami dan sadari juga, bahwa perasaan orangtua juga berpengaruh pada perasaan anak. Jika orangtua merasa cemas dan takut anaknya tidak mampu menyesuaikan diri di lingkungan sekolahnya, anak akan dapat melihat dari ekspresi orangtuanya, dan berpikir sekolah adalah hal yang menakutkan. Kalau sudah menyadari hal ini, orangtua perlu mengingat kembali bahwa setiap anak unik dan mempelajari sesuatu dengan kecepatan mereka masing-masing, termasuk belajar bersosialisasi. Selama orangtua memberi pemahaman dan keyakinan yang benar pada anak tentang betapa menyenangkannya sekolah, lambat laun anak akan merasa nyaman untuk memulai hari-harinya di sekolah playgroupnya.
Foto: bradford.gov.uk/bmdc/education_and_skills/pre-school_learning/
24 Feb 2010
Anakku Pemalu

Setiap
orangtua menginginkan anaknya tumbuh menjadi anak yang berani, aktif,
dan punya banyak teman. Tapi tidak sedikit orangtua yang gelisah
menghadapi sifat anaknya yang kurang berani dan malu-malu bertemu dengan
orang lain selain orangtua atau pengasuhnya.
Sebelum ibu atau ayah mengalami kegelisahan yang berlarut-larut sehingga malah salah menghadapi si anak, ada beberapa hal yang menjadi penyebab anak terlihat pemalu.
Ada beberapa pendapat ahli yang menyatakan, bahwa salah satu penyebanya adalah faktor temperamental atau bawaan si anak. Temperamen pemalu biasanya sudah bisa terlihat sejak usia bayi, ia akan menghindari tatapan mata, mudah menangis bila berada di suasana baru atau bersama orang yang baru dikenalnya. Temperamen pemalu ini mungkin saja disebabkan oleh pengalaman pra natal, yaitu ketika ibu mengandungnya, ibu sering mengalami suasana hati dan emosi yang mudah cemas, khawatir, dan menutup diri. Meskipun ini belum dibuktikan secara ilmiah, tapi selalu disarankan kepada ibu hamil untuk selalu menjaga suasana hatinya agar merasa tenang dan tidak mudah merasa tertekan.
Di luar faktor temperamen bawaan, penyebab yang pasti adalah faktor lingkungan. Jika sejak kecil anak tidak punya kesempatan untuk bertemu dengan banyak orang selain orangtua atau anggota keluarga di rumahnya, anak akan kesulitan untuk bisa belajar bagaimana bergaul dengan oranglain. Orangtua yang jarang memberikan penghargaan pada anak, atau keluarga yang kerap kali mengolok-olok dan tidak peka pada perasaan anak juga dapat membuat anak menjadi pemalu, apalagi ditambah labelling dari lingkungan keluarganya yang mencapnya sebagai anak pemalu. Label anak pemalu yang terus menerus dilekatkan kepadanya justru membuat anak tumbuh besar dengan meyakini dirinya memang pemalu dan tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengubahnya.
Lalu bagaimana orangtua menghadapi anak yang pemalu?
Jika sifat pemalu adalah temperamen bawaan, orangtua tidak perlu khawatir sifat itu akan melekat selamanya. Bagaimanapun, peranan orangtua dan lingkungan sangat besar. Dengan penanganan yang tepat, anak bertemperamen pemalu dapat tumbuh menjadi individu yang lebih percaya diri. Pada dasarnya, mengatasi sifat pemalu yang terpenting adalah
Sebelum ibu atau ayah mengalami kegelisahan yang berlarut-larut sehingga malah salah menghadapi si anak, ada beberapa hal yang menjadi penyebab anak terlihat pemalu.
Ada beberapa pendapat ahli yang menyatakan, bahwa salah satu penyebanya adalah faktor temperamental atau bawaan si anak. Temperamen pemalu biasanya sudah bisa terlihat sejak usia bayi, ia akan menghindari tatapan mata, mudah menangis bila berada di suasana baru atau bersama orang yang baru dikenalnya. Temperamen pemalu ini mungkin saja disebabkan oleh pengalaman pra natal, yaitu ketika ibu mengandungnya, ibu sering mengalami suasana hati dan emosi yang mudah cemas, khawatir, dan menutup diri. Meskipun ini belum dibuktikan secara ilmiah, tapi selalu disarankan kepada ibu hamil untuk selalu menjaga suasana hatinya agar merasa tenang dan tidak mudah merasa tertekan.
Di luar faktor temperamen bawaan, penyebab yang pasti adalah faktor lingkungan. Jika sejak kecil anak tidak punya kesempatan untuk bertemu dengan banyak orang selain orangtua atau anggota keluarga di rumahnya, anak akan kesulitan untuk bisa belajar bagaimana bergaul dengan oranglain. Orangtua yang jarang memberikan penghargaan pada anak, atau keluarga yang kerap kali mengolok-olok dan tidak peka pada perasaan anak juga dapat membuat anak menjadi pemalu, apalagi ditambah labelling dari lingkungan keluarganya yang mencapnya sebagai anak pemalu. Label anak pemalu yang terus menerus dilekatkan kepadanya justru membuat anak tumbuh besar dengan meyakini dirinya memang pemalu dan tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengubahnya.
Lalu bagaimana orangtua menghadapi anak yang pemalu?
Jika sifat pemalu adalah temperamen bawaan, orangtua tidak perlu khawatir sifat itu akan melekat selamanya. Bagaimanapun, peranan orangtua dan lingkungan sangat besar. Dengan penanganan yang tepat, anak bertemperamen pemalu dapat tumbuh menjadi individu yang lebih percaya diri. Pada dasarnya, mengatasi sifat pemalu yang terpenting adalah
- Memberi ruang dan kesempatan seluasnya bagi anak untuk bertemu dengan banyak orang selain orangtua. Mengajak berkunjung ke rumah saudara, terutama yang memiliki anak-anak, atau mengundang anak-anak tetangga atau teman-teman playgroup/TKnya kerumah, atau pergi bersama beberapa teman kecilnya ke tempat rekreasi.
- Jangan pernah menyebutnya anak pemalu di depannya. Label negatif yang didengarnya terus menerus akan membentuk konsep dirinya menjadi negatif pula.
- Orangtua adalah tempat berlindung pertama dan utama bagi anak. Rasa aman yang diberikan orangtua pada anaknya ketika ia bayi menjadi dasar terbentuknya rasa percaya terhadap orang lain. Selama anak tumbuh, tetap tunjukkan rasa cinta tanpa syarat dan penghargaan yang sesuai baginya, akan membantunya memunculkan rasa berharga pada dirinya dan percaya diri ketika berhubungan dengan orang lain.
- Menjadi model bagi anak. Orangtua perlu menjadi model yang percaya diri sehingga akan mudah ditiru oleh anak.
- Kenali potensi yang dimiliki anak, dan berikanlah ruang baginya untuk menyalurkannya. Anak pemalu memliki emosi yang kuat ketika ia mencapai keberhasilan.
30 Okt 2009
Perkembangan Aspek Psikologis Anak Usia 2-3 Tahun
Di satu fase saat seorang anak
terlepas dari status BAYI dan memasuki fase kanak-kanak, yaitu saat anak
sudah dapat melakukan beberapa tugas sederhana dengan kemampuannya
sendiri tanpa dibantu orang dewasa, seperti makan, minum, berjalan,
berlari. Saat ini…rasa otonomi anak mulai muncul. Di sinilah kadang
terjadi konflik dengan orangtua (yang tidak tepat juga disebut konflik).
Pada dasarnya setiap anak memiliki fitrah untuk mandiri, dan keinginan untuk mengembangkan otonomi. Perilaku yang muncul dari fase ini anak akan tampak seperti membangkang atau melawan orangtuanya. Jika sikap ini ditanggapi secara tepat oleh orangtua, maka ia akan tumbuh menjadi anak atau individu yang mandiri, berpendirian kuat, dan tegas, serta berani.
Permasalahannya, tidak semua orangtua mengerti dan memahami apa yang terjadi di balik sikap si anak. Atau bisa jadi orangtua sudah mengerti, namun tidak tahu bagamana cara yang tepat dan bijak untuk merespon perilaku atau sikap anak. Sikap yang salah atau kurang tepat dari orangtua secara konsisten, akan menyebabkan anak tumbuh menjadi anak yang lemah dalam berpendirian, tidak punya kemauan kuat, cenderung merasa ragu-ragu melakukan sesuatu atau malu.
Disinilah pentingnya komunikasi. Komunikasi sangat amat berperan dalam menjalin interaksi yang sehat antara orangtua dan anak dalam setiap tahapan perkembangan. Namun perlu diketahui juga bagaimana cara berkomunikasi yang tepat kepada anak sesuai dengan tingkatan pemahamannya di usia itu.
Anak usia ini tidak lagi ingin didikte. Mereka menginginkan untuk melakukan sesuatu atas dasar keputusannya sendiri. Mereka merasa puas jika sesuatu yang ia lakukan adalah hasil dari keputusan nya. Oleh karena itu di usia ini, akan lebih baik jika orangtua menydorkan pilihan-pilihan ketimbang kita mendiktenya melakukan apa yang kita harapkan.
Tidak selalu berhasil memang, terlebih jika pilihan yang kita sodorkan tidak ada yang menarik baginya. Kita bisa saja memperlihatkan sisi-sisi menarik dari setiap pilihan itu. Atau mungkin kita bisa menambahkan 1 pilihan lagi tergantung kebutuhan.
Bagaimana jika semua pilihan yang kita tawarkan itu semuanya tidak menarik baginya, sementara kita ingin dia melakukan tugas-tugas yang harus dia kerjakan seperti mandi, makan, sikat gigi, dsb.
Saatnya kita perlu bersikap tegas. Bahwa mereka perlu melakukan tugas-tugas itu untuk kebaikan mereka sendiri, sambil menjelaskan konsekuensi jika ia tidak melakukannya.
Di sini mungkin akan terjadi konflik kecil. Tetaplah tenang, kita tidak sedang marah padanya. Meskipun ia berteriak, memukul, atau melakukan tindakan agresif lainnya, tetap bersikaplah penuh kasih sayang tapi sekaligus menunjukkn ketegasan bahwa tugas ini harus dilakukan secara konsisten.
Di sisi lain…sebagai orangtua kita perlu menjaga konsistensi kita dalam menegakkan peraturan tersebut. Mungkin kita merasa perlu sekali-sekali membebaskan mereka dari tugas, tapi ini akan membingungkan anak di kemudian hari…mengapa di lain waktu aku harus melakukan tugas sementara sekarnag aku bisa bebas.
Konsistensi yang harus dijaga tidak hanya dalam menerapkan peraturan ke anak, tapi juga menerapkan kebiasaan baik itu untuk diri sendiri. Kita harus bisa menjadi contoh nyata bagi mereka melalui sikap dan perbuatan kita.
Pada dasarnya setiap anak memiliki fitrah untuk mandiri, dan keinginan untuk mengembangkan otonomi. Perilaku yang muncul dari fase ini anak akan tampak seperti membangkang atau melawan orangtuanya. Jika sikap ini ditanggapi secara tepat oleh orangtua, maka ia akan tumbuh menjadi anak atau individu yang mandiri, berpendirian kuat, dan tegas, serta berani.
Permasalahannya, tidak semua orangtua mengerti dan memahami apa yang terjadi di balik sikap si anak. Atau bisa jadi orangtua sudah mengerti, namun tidak tahu bagamana cara yang tepat dan bijak untuk merespon perilaku atau sikap anak. Sikap yang salah atau kurang tepat dari orangtua secara konsisten, akan menyebabkan anak tumbuh menjadi anak yang lemah dalam berpendirian, tidak punya kemauan kuat, cenderung merasa ragu-ragu melakukan sesuatu atau malu.
Disinilah pentingnya komunikasi. Komunikasi sangat amat berperan dalam menjalin interaksi yang sehat antara orangtua dan anak dalam setiap tahapan perkembangan. Namun perlu diketahui juga bagaimana cara berkomunikasi yang tepat kepada anak sesuai dengan tingkatan pemahamannya di usia itu.
Anak usia ini tidak lagi ingin didikte. Mereka menginginkan untuk melakukan sesuatu atas dasar keputusannya sendiri. Mereka merasa puas jika sesuatu yang ia lakukan adalah hasil dari keputusan nya. Oleh karena itu di usia ini, akan lebih baik jika orangtua menydorkan pilihan-pilihan ketimbang kita mendiktenya melakukan apa yang kita harapkan.
Tidak selalu berhasil memang, terlebih jika pilihan yang kita sodorkan tidak ada yang menarik baginya. Kita bisa saja memperlihatkan sisi-sisi menarik dari setiap pilihan itu. Atau mungkin kita bisa menambahkan 1 pilihan lagi tergantung kebutuhan.
Bagaimana jika semua pilihan yang kita tawarkan itu semuanya tidak menarik baginya, sementara kita ingin dia melakukan tugas-tugas yang harus dia kerjakan seperti mandi, makan, sikat gigi, dsb.
Saatnya kita perlu bersikap tegas. Bahwa mereka perlu melakukan tugas-tugas itu untuk kebaikan mereka sendiri, sambil menjelaskan konsekuensi jika ia tidak melakukannya.
Di sini mungkin akan terjadi konflik kecil. Tetaplah tenang, kita tidak sedang marah padanya. Meskipun ia berteriak, memukul, atau melakukan tindakan agresif lainnya, tetap bersikaplah penuh kasih sayang tapi sekaligus menunjukkn ketegasan bahwa tugas ini harus dilakukan secara konsisten.
Di sisi lain…sebagai orangtua kita perlu menjaga konsistensi kita dalam menegakkan peraturan tersebut. Mungkin kita merasa perlu sekali-sekali membebaskan mereka dari tugas, tapi ini akan membingungkan anak di kemudian hari…mengapa di lain waktu aku harus melakukan tugas sementara sekarnag aku bisa bebas.
Konsistensi yang harus dijaga tidak hanya dalam menerapkan peraturan ke anak, tapi juga menerapkan kebiasaan baik itu untuk diri sendiri. Kita harus bisa menjadi contoh nyata bagi mereka melalui sikap dan perbuatan kita.
Langganan:
Komentar (Atom)
What Is Your Passion?
Quote yang paling menginspirasi: "I am stronger than my excuses".








