11 Nov 2013

Resensi Buku: Ayah Edy Punya Cerita

Cerita-Cerita di Balik Perilaku ‘Ajaib’ Anak

Judul Buku      : Ayah Edy Punya Cerita
Penulis             : Ayah Edy
Penerbit           : Nourabooks
Harga              : Rp 47.000
Tebal               : 290 halaman

Ayah Edy dikenal sebagai konsultan di bidang parenting atau pembinaan keluarga dan pengasuhan anak. Mengusung visi Indonesia Kuat dari Rumah (Indonesia Strong From Home), Ayah Edy ingin menciptakan generasi penerus bangsa indonesia yang tangguh dan kuat. Untuk mencapai misinya, Ayah Edy banyak menyebarkan pemikiran dan pengetahuannya tentang bagaimana membina keluarga yang sehat, dan bagaimana menjadi orangtua yang bisa membantu anak mengembangkan seluruh potensinya, dengan menjadi pembicara di seminar, radio, televisi, maupun menulis buku.

Salah satu buku yang baru terbit adalah, Ayah Edy Punya Cerita. Buku ini berisi kumpulan cerita tentang dunia pendidikan anak dan pengasuhan keluarga di Indonesia dan di beberapa tempat di dunia. Terbagi dalam 2 bagian, yaitu bagian “Pengasuhan” adalah cerita seputar pengasuhan di rumah atau keluarga, dan bagian “Pendidikan”, yang banyak menceritakan tentang dunia pendidikan yang diselenggarakan di institusi bernama sekolah.

Dalam bagian tentang pengasuhan, Ayah Edy memaparkan beberapa cerita dan kasus tentang anak-anak yang bermasalah karena pengasuhan orangtua yang  kurang tepat. Dalam salah satu ceritanya yang berjudul “Kisah Cynthia”, diceritakan seorang anak yang hingga usia 3 tahun tidak bisa bicara dan tidak berminat melakukan apapun, kecuali hanya bermain air sabun sendirian. Ternyata, permasalahannya terletak pada pengasuhan orangtua yang terlalu protektif, hingga kemudian Cynthia merasa malas melakukan apapun karena selalu diawasi dan dilarang orangtuanya. Dalam cerita lainnya, Ayah Edy ingin menyampaikan pesan, bahwa setiap anak yang dianggap keras kepala sebetulnya memiliki karakter bawaan yang baik untuk menjadi orang yang teguh pendirian. Tapi orangtua seringkali memaknai dengan cara negatif. Sehingga ketika terjadi konflik antara anak tersebut dengan orangtuanya, sering terjadi kekerasan secara verbal atau fisik, seperti orangtua ‘terpaksa’ meneriaki, memukul, atau bahkan mencubit si anak.  

Di bagian tentang Pendidikan, Ayah Edy menggambarkan penyelenggaraan pendidikan di sekolah-sekolah di Indonesia pada umumnya. Ayah Edy menyoroti sekolah yang masih saja mengutamakan pentingnya nilai akademis dan menilai kecerdasan hanya dari satu atau dua aspek saja, yaitu kemampuan berbahasa dan matematika. Akibatnya, banyak anak dengan mudah dicap bodoh atau tidak cerdas. Padahal dalam dunia pendidikan yang semakin berkembang, ditemukan bahwa kecerdasan itu luas dan beragam. Kemampuan berbahasa dan berhitung atau logika hanyalah 2 di antara 8 kecerdasan yang ada. Yaitu, kecerdasan interpersonal, intrapersonal, natural, visual spasial, musikal, dan kinestetis. Namun, selain memaparkan ‘kritik tentang sistem pendidikan sekolah’ yang berlaku umum di Indonesia, digambarkan pula beberapa sekolah yang mulai menerapkan semangat untuk benar-benar melihat anak sebagai individu yang selalu unik, dengan kecerdasan yang berbeda-beda.

Beberapa cerita merupakan analogi untuk menggambarkan dunia pendidikan kita. Seperti dalam cerita berjudul “Sistem Pendidikan Ala Teko dan Cangkir”. Tulisan ini menyoroti praktek pendidikan di negara ini yang tidak mendukung berkembangnya kreativitas. Proses belajar hanya diartikan sebagai proses untuk menerima pengetahuan dari guru. Apa yang menjadi pemikiran guru, itu pulalah yang diikuti mentah-mentah oleh peserta didiknya. Padahal, untuk belajar secara efektif, diperlukan keterampilan berpikir kreatif, lalu kemampuan berpikr logis, dan terakhir kemampuan menyimpan informasi.

Ayah Edy juga menceritakan beberapa kisah inspiratif dari beberapa tokoh besar dan penemu di dunia. Dalam cerita tentang Thomas Alva Edison dan Albert Einstein, Ayah Edy menceritakan tokoh yang berperan dibelakang nama-nama besar tersebut, yang ternyata ada dukungan dari orangta yang percaya dengan potensi mereka. Walau sebelumnya harus berhadapan dengan institusi sekolah yang terlanjur melabeli mereka dengan kata bodoh atau gagal.

Memahami dan Mengembangkan Potensi Anak
Buku ini bisa menjadi pembuka wawasan bagi orangtua dan pendidik tentang bagaimana memandang anak dan bersikap terhadap anak dengan semua keunikannya, agar tidak mudah terjebak untuk melabeli anak dengan label negatif. Buku ini membantu meluruskan pandangan tentang anak, bahwa pada hakikatnya semua anak itu memiliki potensi untuk sukses mencapai prestasi puncak, namun dalam kenyataanya, perjalanan untuk ke sana terhambat oleh lingkungan keluarga dan sekolah yang justru tidak mendukung pengembangan potensi anak, malah merusaknya. Tugas orangtua dan pendidik saat ini adalah kembali menyadari fitrah anak dan memperbaiki cara mengasuh dan mendidik anak, dan bercermin kesalahan-kesalahan pengasuhan dan pendidikan yang beberapa contoh kisahnya ada di buku ini.

Sebagai buku yang dimaksudkan untuk berbagi pengetahuan, akan menjadi lebih lengkap jika penulis bersedia menuliskan referensi buku-buku yang menjadi nukilan dan inspirasi cerita di buku ini, seperti referensi untuk cerita tentang penemu Albert Einstein dan Thomas Alva Edison. Penulisan sumber referensi diperlukan agar pembaca yang ingin mengetahui lebih jauh tentang tokoh yang diceritakan bisa dengan mudah mencari sumbernya. Akan sangat menarik dan berisi, jika menceritakan kisah kesuksesan tokoh kepada orang lain atau kepada anak jika mengetahui versi lengkapnya. Misalnya, ketika menceritakan tentang Bill Gates yang memutuskan untuk keluar dari Harvard University untuk menekuni hobi mengutak atik software, yang menjadi cikal bakal kesuksesannya dengan Microsoft.


Tetapi kehadiran buku ini menjadi pendorong bagi orangtua dan pendidik anak untuk kembali merenungi makna dari kehadiran seorang anak dan tujuan dari pendidikan, melalui penyampaian yang ringan dan menghibur, karena disampaikan dalam bentuk cerita-cerita yang inspiratif. (rie)

4 komentar:

  1. buku ini masih di bagian waiting list untuk dibaca nih kuyi di rak ku... masih menyelesaikan beberapa buku yang lain.. eniwey thanks buat sharing resensinyaaa....

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama mbak... semoga segera masuk dalam daftar 'sudah dibaca' :). Waktu aku baca beberapa artikel pertama malam hari, besok paginya, hati dan pikiran lebih enteng ngadepin anak-anak, *bagai direcharge hehe

      Hapus
  2. Penasaran sama buku ini. Makasih reviewnya ya, mbak. :)

    BalasHapus
  3. hem... orang tua harus benar-benar banyak belajar untuk mengasuh, merawat dan mendidik anak yaa... trmkasih untuk berbagi resensinya mbak....
    saya juga sedang belajar menjadi orang tua yang baik untuk anak saya... dan alhamdulillah berbagai pengalaman itu sekarang saya tuangkan menjadi sebuah buku "Cerdas Mengasuh Anak Usia 0 - 2 Tahun"....

    BalasHapus

Haii emak, bapak, ibu, adik, abang, neng, uda, uni, akang, teteh, mas, dan mbak, tinggalkan komentar dan jejakmu yaa... saya senang sekali kalau bisa berkunjung ke rumah maya milikmu. Salam BW ^_^

What Is Your Passion?

Quote yang paling menginspirasi: "I am stronger than my excuses".