7 Jan 2014

Kisah Zhafi dan Gangsing Tradisionalnya

Pulang sekolah di hari pertama semester 2, ibu tanya Mas Zhafi.

Ibu: Gimana di sekolah hari ini? Seneng?
Mas Zhafi: he-eh. (mengangguk)
Ibu: Oyah? Apa yang paling bikin mas Zhafi seneng di sekolah?
Mas Zhafi: Tadi aku dikasih gangsing, dari Mora. Dia dari Jogja.
Ibu: Oh.. iya yaa.. Mana gangsingnya?

Sesampai di rumah, Zhafi langsung mengeluarkan gangsing dan mencoba memasangnya.

Tau kan, gangsing yang tradisional itu, yang terbuat dari bambu. Satu mainan gangsing ini terdiri dari gangsing itu sendiri, tali jemuran yang di ujungnya diikatkan kayu kecil dan pendek (sekitar 3 cm), dan sebuah bilah bambu yang ukurannya lebih besar dari kayu kecil tadi (kurang lebih 5 cm). Pada bilah bambu tadi terdapat lubang di salah satu ujungnya yang dimasuki tali nilon tipis (yang seperti tali jemuran itu lho). Untuk bisa memutar gangsing itu, kita harus melilitkan tali jemuran itu ke gangsingnya. Lalu ditarik dengan cepat dan keras. Si gangsing pun akan berputar dengan indahnya, dan mengeluarkan suara yang merdu.

Nah... mas Zhafi baru pertama kali memainkan gangsing itu. Yaa, dulu-dulu banget sih pernah, tapi bukan dia sendiri yang memutarnya. Ayah atau ibunya yang memainkan, Zhafi hanya melihat. Kali ini, dia mencoba memainkannya sendiri. Melilitkan tali ke gangsing bukan perkara yang mudah baginya. Sampai-sampai, dia nyeletuk, “Mainnya sih cepet, tapi masangnya yang lama, bosen, susah!”

Beberapa kali mencoba, tali selalu lepas. Kali ketiga mencoba, dia mulai ngambek (ini kok ibunya banget ya), dan mulai menyalahkan si gangsing malang, “Mainannya jelek!”

Dudududuh... rasanya pengen aja bilang, “ya udah, ga usah main lagi”. Atau, “ sini ibu aja yang pasang”. But wait!

Kalau dia dibiarkan menyerah di  hal-hal kecil seperti ini, dia mungkin juga akan menyerah terus untuk tantangan yang lebih besar lagi.

Lalu terjadilah obrolan ini:
Ibu: “Kenapa mainannya jelek?”
Mas Zhafi: “Habis susah gitu sih”
Ibu: “Tapi ibu liat anak-anak pada bisa mainin itu, kenapa ya? Apa mereka langsung bisa? Pasti belajar dulu, dicoba terus, latihan terus”
“Mas Zhafi hanya perlu terus mencoba, sampe bisa”
“Zhafi dulu juga belajar naik sepeda kan ga langsung bisa. Pertama roda 4, roda 3, terus roda 2. Itu malah butuh waktu lama”
Mas Zhafi: “Iya, tapi ibu aja deh yang pasang!” (masih ngambek).
Ibu:  “Ibu mau bantu pasang sekali aja. Seterusnya, Zhafi yang coba ya. Kaya si Thomas Alva Edisin tuh. Dia itu yang menemukan lampu. Karena jasanya, kita sekarang bisa menikmati cahaya dari lampu. Padahal dulu, Pak Thomas bikin dan merakit lampu itu ga langsung berhasil. Pertama coba rakit, gagal. Rakti lagi, gagal lagi, rakit lagi, gagal lagi. Begituu terus sempai berapa kali?
Zhafi: (diem)
Ibu: ngga Cuma 10 kali, tapi 1000 kali malah. Jadi yang penting, coba terus. Yakin deh, Zhafi juga lama-lama bisa
Zhafi:  (masih diem)

Akhirnya, dia mencoba lagi. Pertama ngga mau muter, padahal udah lumayan berusaha sabar melilitkan kumparan talinya. Dia coba lagi. Dann akhirnya, satelah sekitar 10an kali mencoba, dia bisa memasang kumparan tali, dan memutarnya dengan sangat baik. Excellent. Dan Zhafi pun sumringah karena puas bisa bermain gangsing sendiri.

Katanya, “Zhafi perlu belajar cara gimana supaya lebih cepet lagi masang talinya”.

Ibu: “Yak... terus latihan, nanti kan terbiasa dan bisa lebih cepet"

Moment-moment seperti ini memberi pelajaran buat kami berdua. Ibunya belajar untuk menyemangati, menginspirasi, memotivasi dengan memberi afirmasi positif dan cerita-cerita tentang proses sukses. Putraku belajar mengatasi rasa mudah menyerahnya, rasa ga bisanya. Dan ngga ada yang sempurna, karena semuanya perlu proses.


5 Jan 2014

TMII Kali Ini Naik Monorailnya...


Hari terakhir di bulan Desember tahun 2013, kami isi dengan hangout (bahasa kerennya) ke Taman Mini Indonesia Indah. Yangti dan Yangkung ceritanya ingin ajak cucu-cucunya main-main, dan Taman Mini yang jadi pilihan. Hmm.... sebetulnya sudah cukup sering pastinya, dan sudah hampir semua wahana dan titik-titik di TMIiI dikunjungi, tapi memang ada satu yang belum pernah kami naiki: kereta Aeromovel atau monorailnya.

Rencana berangkat pagi terpaksa ditunda hingga jam 10.00 karena hujan yang cukup deras sejak malam harinya. Pada jam 10.00 itu, hujan sudah cukup bersahabat. Perjalanan lancar sekali tanpa macet, karena sepertinya siang ini semua penghuni Jakarta sedang tidur siang untuk atau istirahat untuk mempersiapkan energi menyambut malam pergantian tahun. Senangnya... walau sempat kebablasan ke jagorawi, ngga perlu manyun karena perjalanan tetap mulus tanpa hambatan.

Sampai di TMII sekitar jam 11.00. dan segera membayar tiket masuk gerbang  sebesar 55.000 rupiah totalnya (Rp 8.000/orang plus kendaraan Rp 7.000). Tujuan pertama kami adalah Akuarium Air Tawar. Akuarium airt tawar adalah tempat kita bisa melihat berbagai jenis ikan air tawar yang terdapat di seluruh nusantara dan dunia. Untuk bisa menikmati akuarium ini, pengunjung di kenakan tiket seharga Rp 15.000/orang yang sudah termasuk tiket masuk ke Museum Serangga dan Taman Kupu-Kupu yang bersebelahan dengan Akuarium. 

Ikan Arwana sepanjang kurang lebih 1 m
Ikan Gajah. Ada belalainya, lho...
Menarik juga melihat ragam jenis ikan air tawar dengan berbagai bentuk dan ukuran. Kita bisa melihat ikan yang memiliki keunikan-keunikan tersendiri. Beberapa di antaranya, ikan gajah yang memiliki semacam belalai di mulutnya, ikan arwana panjang 1 meter, belut listrik  sepanjang 1 meter yang dihubungkan dengan lampu di atas akuariumnya sehingga ketika belut itu bergerak lampu akan menyala, juga ikan karnivora yang terkenal itu yaitu piranha.



Kita juga bisa melihat hewan air tawar lainnya seperti udang-udangan, labi-labi albino (sejenis penyu albino), buaya kura-kura. 

Setelah melewati berbagai jenis ikan dan hewan air tawar, tibalah giliran untuk melihat hal-hal menarik di dalam Museum Serangga dan Taman Kupu-Kupu. Dunia serangga ternyata sangat unik ya. Setiap  famili serangga punya banyak jenisnya. Seperti replika kawanan kumbang beraneka jenis yang disusun dan terpajang di area pamer paling depan museum tersebut. 

Ragam Kumbang Nusantara

 Sambil melihat-lihat koleksi serangga yang diawetkan itu, Yangti dan Yangkung asyik membahas nama beberapa serangga itu dalam bahasa Jawa. Dan Yangkung takjub ketika menemukan serangga sejenis kumbang yang dikenalnya dengan nama Samber Ilen juga dipajang di situ lengkap dengan namanya dalam bahasa Jawa. Koleksi serangga tomcat yang beberapa waktu lalu membuat heboh di Indonesia karena memakan korban, juga dipajang di sana. Ternyata besarnya seperti nyamuk. Hanya saja, kalau nyamuk kalau hinggap di tangan atau kaki kita, kita bisa menepuknya sampai mati atau mengeluarkan darah. Tapi, kalau tomcat yang hinggap, sebaiknya biarkan dia pergi dalam kondisi hidup dan utuh. Caranya dengan meniupnya atau menyentil/menyeroknya dengan pelan menggunakan kertas. Supaya kita tidak terkena getah dari tubuh tomcat yang punya zat berbahaya yang membuat kulit gatal dan melentung hebat.

Kupu-kupu yang diawetkan
Petualangan di dunia serangga pun berlanjut ke taman Kupu Kupu. Aih... cantik banget kupu-kupu di dalam sana. Jumlahnya memang tidak banyak, tapi cukuplah bikin segar pemandangan mata.

Setelah sholat, kami mencari tempat makan langganan sejak jaman saya masih kecil diajak jalan Yangti Yangkung ke Taman Mini. Pecel Madiun. Pecel di sini dulu terasa enak sekali, dan hati terasa teduh karena selalu ada pertunjukan langsung seorang bapak yang memainkan kecapi atau ibu-ibu yang nyinden. Sempat bingung mencari-cari tempatnya, karena tempatnya sudah dipindah. Tempatnya yang dulu sudah berganti menjadi anjungan rumah adat untuk propinsi-propinsi ‘baru’. Dan lokasi si Pecel Madiun ini sekarang terletak tidak jauh dari Museum Transportasi. Suasananya kurang lebih tidak banyak berubah, malah mengalami penurunan. Rasa makanannya tidak senikmat dulu. Dan tidak ada pemain kecapi dan sinden. 


Pemandangan di bangku paling depan aeromovel
Usai mengisi perut, Zhafi dan Hanan dapat kejutan menyenangkan. Mereka akan mencoba naik monorail atau kereta Aeromovel. Monorail ini terdiri dari dua gerbong. Jalannyya tidak teralu cepat. Tapi karena kami dapat kesempatan duduk di depan, sensasinya terasa seru dan sedikit menegangkan. Dan yang terpenting rasa penasaran Zhafi dengan monorail sudah terjawab. Lain kali kita naik monorail beneran yaa... Atau kereta peluru sekalian.  TGV di Perancis, atau Shinkansen di Jepang? Hmmm.... *twink.

25 Des 2013

Suvenir Akhir Tahun dari Monas


Si Sulungku  udah libur semester. Dan ibunya ini pun bingung mau kasi kegiatan apa aja ya selama 3 minggu ini. Yangtinya punya ide, diajak naik sado di kawasan Monas. Yaa, sebenernya udah beberapa kali Sulungku ini naik sepupunya sado, Mas Andong yang tinggal di Jogja. Jadi, tujuan terselubung ngajak naik sado mungkin karena Yangtinya penasaran naik kereta berkuda itu di tengah kota metropolitan Jakarta, sekaligus mem-pernah-kan Si Bungsu. Jadi, ibunya bujuk si Sulung, Mas... kamu bisa jadi gurunya Adek. J

Dengan penuh kepercayaan diri dan harapan, kami berempat, Yangti, Ibu, Mas, dan Adek berangkat ke Monas naik taksi. Sesampainya di sana... ada agenda terselubung lainnya. Ibu pengen ajak si Mas naik ke puncak Monas, yang manaaa Ibu sendiri seumur-umur belum pernah!

Tapii apa daya... cita-cita nan mulia harus pupus dan kandas. Setelah mengitari pinggiran Monas untuk sampai di pintu masuk, seorang Bapak Petugas menanyakan keperluan kami. Yaa.. anehnya si Bapak, jelas-jelas kami ke sini mau masuk ke dalam tubuh si Monas. Tapi Bapak itu dengan berwibawanya bilang kalau hari itu sedang ada jadwal pemadaman listrik dari PLN. Whatt? Dan ternyata sedang ada renovasi untuk bagian liftnya menuju puncak Monas, yang masih berlangsung sampai tanggal 31 Desember.

Okey... lupakan kami yang tinggal di Jakarta. Tapi demi melihat segerombolan anak SMP yang ada di sana dan dari percakapan antar mereka kelihatannya dari luar kota Jakarta, mungkin Sukabumi atau semacamnya (semoga tidak lebih jauh dari itu), tentunya saya ikut berempati kepada mereka. Jauh-jauh datang menembus jalanan Jakarta yang terbilang ‘tidak ramah’ karena kemacetannya, tentunya bukan hal yang menyenangkan. Dan mereka harus menerima kenyataan kalau mereka ngga bisa masuk ke dalam Monas. Semoga mereka menemukan tujuan wisata lain.

So... kami memutuskan langsung naik sado. Tapi sebelumnya, ibu ingin kasih pengalaman naik otopet untuk Si Sulung. Iya, otopet yang banyak disewakan di sekitar lapangan Monas itu. Yangti tadinya khawatir banget Si Mas ngga bisa jaga keseimbangan, jadi menyuruh Ibunya untuk berboncengan. Eh... belum sempat Ibunya naik... Si Sulungku itu sudah meluncur dengan cepatnya... Tinggal mulut ini tidak bisa ditahan untuk teriak, “Awaass pelan-pelan” sambil jantung berdeburan karena khawatir. Tapi demi melihat Si Sulung semakin asik dan santai mengendarai otopet, sepertinya ngga ada yang perlu dikhawatirkan lagi.

Ada satu peristiwa yang aku amati di sana. Di dalam lapangan Monas tersebut, berdiri tenda-tenda putih. Tampaknya seperti sehabis ada acara bazar atau pameran. Acara itu sudah selesai, tapi tenda-tenda itu masih banyak terpasang di sana. Dan di sekelilingnya, ada banyak yang ‘latah’ ikut-ikutan ‘pasang tenda’. Tenda terpal yang di sambung ke gerobak khas pedagang kaki lima. Ya, mereka para pencari rezeki yang mengandalkan hidup dari berdagang kaki lima tersebut seolah mendapatkan momentnya untuk berjualan di dalam lapangan Monas. Tidak lama, saya baru menyadari... truk-truk yang berdatangan dari tadi adalah truk milik Sat Pol PP. Bisa ditebak apa yang terjadi?

Dilematis yaa, di satu sisi kasihan dengan para pedagang kaki lima itu, namun di sisi lain, kalau mereka dibiarkan berjualan dengan bebas tentu akan mengganggu ketertiban dan keindahan kawasan itu.

Anyway, setelah waktu bermain otopet habis, kami berjalan ke arah lapangan parkir sambil celingak celinguk mencari kemana gerangan para kereta berkuda itu. Kok ngga menemukan satu lembar surai kudanya sekalipun.

Akhirnya, kami bertanya kepada seorang ibu pedagang kaki lima, yang kemudian menjawab dengan logat kental Madura (yang belakangan kusadari beberapa pedagang dan pencari rezeki di kawasan itu hampir semuanya berbicara dengan logat Madura). Menurut Bo Abo yang berjualan minuman dingin itu, belum lama ini Sado sudah ngga diizinkan lagi beroperasi di hari kerja. Hanya di hari Sabtu dan Minggu aja. Oh...Monas...

Kami senyum-senyum simpul tidak berhasil mewujudkan kedua harapan kami hari itu, yaitu naik ke puncak Monas dan naik Sado di seputaran Monas. Tapi... ada suvenir yang kami bawa pulang, sekedar mengingatkan bahwa pada bulan terakhir di tahun 2013 ini, kami sempat jenguk Monas sebentar, walau hanya melihat saja. Foto di Monas...



20 Des 2013

Rangkuman School of Co Parenting SCOPE) #2: Generasi Aqil Baligh

Rangkuman dari School of Parenting (Scope) yang diadakan oleh Sekolah Alam Tangerang (SAT) untuk wali murid SD kelas 1 SAT. Scope dilaksanakan Minggu tanggal 27 Oktober 2013, dengan pembicara konsultan pendidikan Bapak Adriano Rusfi (Pak Aad).

Generasi Aqil Baligh: Ciri, Karakter, Kompetensi, dan Manfaat

Kenapa Harus Aqil Baligh?
Ada ungkapan yang pernah diucapkan Bung Karno, yaitu:
“Beri aku 10 pemuda dan akan kuubah dunia”
Tapi tahukah jika bukan pemuda, tapi remaja yang disodorkan, mungkin quotenya akan berubah menjadi:
Beri aku 1 remaja, dan pusinglah aku dibuatnya.” Hehe...

Beda pemuda dengan remaja:
Pemuda: sudah matang secara fisik dan seksual, juga memiliki pemikiran yang matang, siap mengambil peran dan tanggung jawab, sudah merencanakan kehidupannya, dan sudah mulai bisa mandiri secara finansial.
Remaja: matang secara fisik, tapi masih belum punya rasa tanggung jawab, belum bisa memecahkan masalah atau mengambil keputusan, dan apalagi, masih sangat tergantung secara finansial kepada orangtua, bahkan ada yang sampai menyulitkan orangtuanya.

Ironis memang, tapi itulah fenomena yang muncul akhir-akhir ini dengan kehadiran remaja. (seperti yang sudah disampaikan pada materi SCOPE sebelumnya “Remaja: Dilema dan Petaka”).

Jadi, kenapa harus Aqil Baligh?
1.       Aqil dan Baligh adalah 2 sisi dari 1 mata uang
2.       Keduanya saling melengkapi
3.       Keduanya adalah cerminan keseimbangan antara akal dan nafsu
4.       Keduanya adalah kombinasi dari instink dan nurani
5.       Baligh sebagai ‘gas’ dan Aqil sebagai ‘rem’
6.       Aqil dan Baligh menandakan kematangan paripurna
7.       Karena manusia diciptakan mulia, lebih tinggi dari malaikat ataupun hewan.

Problem yang dihadapi kaum remaja, yaitu kelompok usia yang sudah baligh tapi belum aqil adalah, bisa melakukan tapi tidak bisa menanggung resikonya, atau bertanggung jawab atas konsekuensinya. Karena, mereka ini sudah terbit nafsunya, sudah mulai muncul gairah seksualnya, dan mungkin sudah meletup-letup ambisinya, karena sudah mulai mencapai tahapan perkembangan seksual yang menuju matang, tapi belum terbentuk akalnya, moralnya, kemampuan finansialnya, dan spiritualnya. Misalnya, saja yang paling memprihatinkan adalah terjadinya perilaku seks bebas atau zina di usia dini. Contoh lain adalah kasus tawuran antar pelajar, kasus kecelakaan seperti yang dialami Dul alias AQJ, anak dari pasangan musisi Ahmad Dhani dan Maia.

Tentang zina sendiri, jangankan remaja, orang yang sudah dewasa pun bisa tergelincir ke dalam perbuatan ini. Karena Zina tidak bisa diatasi hanya dengan iman, tapi dengan menjauhinya sedapat mungkin. Tidak ayat yang memerintahkan “jangan berzina”, melainkan, “jangan kau dekati zina”. Karena zina terjadi akibat adanya kesempatan pada ruang dan waktu yang tepat, dimana saat itu bahkan iman pun sulit bersaing dengan nafsu yang memang muncul secara alamiah.

Contoh kasus: Seorang guru ‘baik-baik’ kemudian menggauli siswinya yang juga tergolong perempuan ‘baik-baik’.

Dan zina sangat dekat dengan perilaku bunuh-membunuh. Jika situasi sudah terjepit, tak jarang zina berakhir pada kasus bunuh diri, bunuh pasangan zina, atau bunuh janin. Walaupun, ada juga yang pada akhirnya bisa ‘menata’ kembali kehidupan yang lebih baik.

Baligh harus diimbangi dengan Aqil. Jika tidak, maka yang muncul adalah petaka seperti yang dicontohkan di atas. Begitu juga sebaliknya, Aqil harus diimbangi dengan baligh. Jika tidak, maka tidak ada nafsu, tidak ada ambisi untuk maju dan membangun, instink untuk berjuang, dan cita-cita. Karena manusia bukan lah malaikat.

Manusia diciptakan mulia karena akal dan nafsunya. Karena jalan dosa itu perlu ada. Kita berpahala jika kita bisa menahan atau mengendalikan/mengelola diri dari dosa. Pahala disebabkan karena kita tidak melakukan dosa, sebagaimana pengertian dari hukum haram adalah jika dilakukan berdosa dan jika tidak dilakukan mendapat pahala.

Konsep itu bukan berarti kita boleh berbuat salah sama sekali. Berbuatlah salah tapi bukan berbuat dosa. Silakan melanggar, karena salah dan melanggar kaidah umum itu bagian dari terbentuknya kreativitas, tergantung hal apa yang dilanggar.
Kreativitas itu adalah jalan dosa yang dikelola dengan baik. Kreatif, bisa diartikan dengan bagaimana tujuan bisa tercapai tanpa berbuat dosa.

Tantangan Islam adalah melahirkan generasi kreatif. Karena baik saja tidak cukup, harus beda dan kreatif. Banggalah dengan kemanusiaan kita, karena disitulah letak kemuliaannya. Dimilikinya nafsu untuk berbuat, dan akal untuk mengarahkan apa yang akan dibuatnya dan bagaimana mencapainya.

Syari’ah dan Aqil Baligh
1.       Syari’ah adalah taklif atau beban. Dibutuhkan kemampuan untuk melakukannya.
2.       Syari’ah adalah kombinasi dan keseimbangan antara aturan dan kebijaksanaan
3.       Syari’ah adalah ajaran tentang bagaimana aqil mengelola baligh
4.       Agar ada syari’at di satu sisi, dan ada akal sehat dan nurani di sisi lain
5.       Agar seimbang antara aqil dan baligh
Ya, syariah memang beban, tapi jika aqil terbentuk akan muncul nilai dan pemikiran bahwa, “Allah tidak akan membebankan sesuatu kepada manusia kecuali sesuai dengan kemampuannya.”

Dasar dari munculnya syari’ah adalah bentuk untuk mencintai Allah. Janganlah menjadi hamba shalat, janganlah menjadi hamba puasa, atau hamba masjidil haram. Jadilah hamba Allah, yang dengan cinta kita padaNya kita bersedia untuk dibebankan kewajiban sholat, puasa, naik haji, dan sebagainya.

Dasar dari hukum syari’ah BUKAN MELAWAN hawa nafsu, tapi MENGENDALIKAN/MENGELOLA hawa nafsu.

Tentang fatwa yang dikeluarkan dari lembaga seperti MUI, tentang syar’i atau tidaknya sesuatu, kadangkala bisa menyesatkan. Fatwa tertinggi adalah hati. Karena hakikatnya, kebaikan adalah , apa yang membuat hati tenteram ketika melakukannya, dan keburukan adalah apa-apa yang ketika terbetik dalam hati, tapi tidak ingin diketahui orang lain.

Tantangan Masa Depan
1.       Akan banyak informasi yang membutuhkan kemampuan pengambilan keputusan secara akurat. Pengambilan keputusan membutuhkan kemampuan untuk membedakan dan menganalisis 4 hal:
-          Apakah penyebabnya
-          Apakah pemicunya
-          Apakah faktor pendukungnya,
-          Apa akibatnya
2.       Akan banyak tantangan moral yang membutuhkan pengendalian nafsu.
3.       Sebuah era penuh kompetisi yang membutuhkan kematangan
Usia SD adalah usia forming, bukan performing.
4.       Sebuah masa pengembangan IPTEK yang menghajatkan kualitas SDM
5.       Era kecerdasan emosional, sosial, dan spiritual

Empat fungsi otak:
1.       Gudang (tempat penyimpanan informasi)
2.       Perpustakaan (sumber referensi yang terorganisasi dengan rapih)
3.       Laboratorium (tempat bereksperimen dengan segala sumber informasi yang ada)
4.       Production House (tempat mengkreasi produk, ide, gagasan)

Pengertian
Aqil
Dewasa secara akal.
Akal adalah pertautan antara fikiran dan hati, yang menghasilkan pemecahan masalah, pengambilan keputusan, kemampuan berpikir, dan kreativitas.
Baligh
Dewasa secara fisik.
Kematangan seks primer dan sekunder
Berkembangnya naluri dan dorongan primitif
Tempat munculnya instink kehidupan (eros) dan instink kematian (tanathos) – nyali vs keberanian


DISKUSI
1.       Tentang kesulitan konsentrasi dan fokus menerima pelajaran pada anak usia SD.
Anak usia SD memang masanya belum bisa fokus atau konsentrasi dalam waktu yang lama. Dan satu hal yang perlu diingat, perkembangan manusia belum mencapai klimaksnya jika masih usia SD, sehingga sangat mungkin nanti bisa berubah dan diubah.

2.       Tentang apakah parameter aqil?
Aqil dapat dikenali dengan 3 ciri:
a.       Mampu bertanggung jawab
Dapat dilatih dengan cara, memberikan tanggung jawab secara bertahap, dimulai dari tugas kecil, lalu serangkaian tugas atau satu set pekerjaan. Misal, “tolong jaga adik, agar adik tetap aman dan nyaman sampai ayah bunda pulang.”
b.      Mampu mandiri, baik secara self help, maupun finansial
Anak dapat dilatih mencari uang sendiri dengan cara memberikannya tugas diluar tugas rutin/hariannya, dan berikan imbalan berupa uang.
c.       Mampu mengambil keputusan dengan akurat (atau mendekati akurat)
Latih anak untuk menentukan atau keputusan-keputusan dalam keluarga, misal: kakak mau menu apa buat besok. Atau kita mau pergi jalan-jalan ke mana hari ini? Bisa kita sempitkan pilihan dan biarkan anak yang menentukan. Atau anak yang menyodorkan pilihan, dan orangtua yang memilih.

               
3.       Tentang hubungan kakak adik sebagai partner belajar dalam kehidupan
Didik anak pertama sebaik mungkin, agar si sulung mampu mendidik dan mengajari adik-adiknya. Karena kakak dan adik adalah partner belajar paling pas untuk belajar tentang kehidupan. Jika mereka bertengkar, itu adalah proses belajar mereka yang unik. Dari pertengkaran kakak adik (sepanjang itu wajar), masing-masing belajar tentang menghadapi kehidupan.

4.       Tentang saudara sekandung yang berebut warisan hingga mengalami gangguan kejiwaan
Ada banyak hal yang bisa menyebabkan seseorang mengalami gangguan kejiwaan atau psikosis. Dalam hal ini, salah satunya bisa disebabkan karena belum tuntasnya tahapan perkembangan sebelumnya. Pembentukan individuasi, keakuan, egosentrisme, yang seharusnya muncul dan dikembangkan di usia SD harus dituntaskan di masa itu. Jika ditekan, atau tidak selesai, akan menjadi ‘hutang’ dan akan muncul di tahapan usia yang lebih tua, dan efeknya sangat buruk.

5.       Tentang kecepatan anak yang berbeda, dan bagaimana guru dan orangtua menyikapinya
Setiap anak punya gaya kecepatan yang berbeda. Ada yang bertipe sprinter, ada yang bertipe marathon, ada yang berubah antara sprint dan marathon. Dalam menyikapinya, disesuaikan dengan gaya kecepatan anak. Dari sekolah sendiri, di siasati dengan sistem sentra, dan menggabungkan anak-anak sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya.

18 Des 2013

Resensi 99 Cahaya di Langit Eropa

Sama sekali ngga ada niat mau beli buku ini, tadinya. Well, sempat melirik demi melihat kata Eropa. Awalnya aku ngga mau beli karena keterbatasan budget. Tapi sewaktu akan membayar buku Rantau 1 Muara, dan melihat buku itu di meja kasir—yang kelihatannya lagi gencar dipromosikan bersamaan dengan sedang tayangnya film berjudul sama di bioskop--, saya ngga bisa menahan diri untuk membelinya. Bulu roma merinding, mungkin karena saya merasa buku ini mewakili impian saya jalan-jalan ke Eropa. Ternyata bukan sekedar tentang jalan-jalan ke Eropa yang didapat, tapi pelajaran sejarah yang enak dibaca. Sejarah yang makin membukakan mata saya tentang Islam yang rahmatan lil 'alamin.


Review saya tentang buku ini bisa dilihat di Booworm's Shelf

8 Des 2013

Jujur Itu Sederhana

Pagi ini, Si Bungsu tertarik dengan keramaian suara lagu anak-anak di pasar. Semakin tertarik ketika tahu suara lagu itu berasal dari wahana kereta-keretaan yang digelar setiap Minggu pagi di area pasar dekat rumah kami. Si kecil menarik-narik tangan saya ke sana, mengajak untuk melihat. Iya, hehe.. melihat. Karena dia tidak tertarik untuk menaiki wahana itu. Dia hanya suka melihat dan mendengarkan lagu-lagunya, sambil sesekali berjoget dan bertepuk tangan. Awalnya, saya hanya melihat pemandangan itu sebagai pemandangan biasa. Tapi... fokus saya kemudian tertuju pada abang-abang yang memiliki wahana itu, yang mengendalikan jalan dan berhentinya si kereta, yang memperhatikan ‘keselamatan penumpang-penumpang kecilnya’ dengan memakaikan sabuk pengaman sederhana, dan yang menerima uang-uang receh 2000an sebagai pengganti jasa hiburan kereta mini itu.

Di zaman sekarang ini, terutama di negara ini, saat semakin banyak orang mencari uang dengan cara yang aneh, tidak masuk akal, bahkan memakan jatah orang lain seperti mengkorupsi, bagi saya cara si abang-abang ini jauh lebih masuk akal, lebih lazim, dan lebih jujur. Si abang-abang ini tentu tidak bisa mengharapkan mendapat uang lebih dari Rp 2,000 setiap anaknya, paling banyak Rp 5,000 atau Rp 10,000. Itu kalau si anak mungkin ditinggal kelamaan ibunya ke pasar saking asiknya belanja :P.
Tapi itulah cara yang dipilih si Abang-abang ini untuk menjemput rezekinya. Tidak dengan cara lain yang tidak jujur.

Di kesempatan itu juga, saya melihat moment yang dalam pikiran saya, itu adalah peluang terjadinya kejujuran atau ketidakjujuran. Seorang bapak yang menitipkan anaknya di kereta-keretaan itu, tidak punya uang kecil. Ketika akan membayar dengan selembar uang 50 ribuan --karena sepertinya hanya uang itu yang dibawanya-- dan si Abang tidak punya kembalian, si Bapak minta waktu untuk mencari uang kecil, tentunya dengan membawa anaknya tadi. Saya rasa, bisa saja si Bapak itu kemudian tidak kembali untuk memberikan uang jasa kepada si Abang. Tapi.. si Abang toh percaya.... dan si Bapak memang kembali.


Kala itu... dalam peristiwa sederhana itu, saya bersyukur, masih banyak kejujuran-kejujuran kecil yang bisa saya temui di sekitar saya. Seringkali saya selalu terfokus pada ketidakjujuran orang lain (baca:koruptor), dan melupakan bahwa di sekitar saya masih ada hal baik dan positif yang bisa diapresiasi. Semoga dari apresiasi-apresiasi positif itu bisa berkembang menjadi pikiran dan energi  positif di setiap kehidupan. 

4 Des 2013

#lessonoftheday

Ketika anak melakukan perbuatan yang dianggap mengecewakan diri, tanyakan dulu apakah diri ini melakukan hal yang sama kepada orangtua. #lessonoftheday

Kenangan Indah Masa Kecil

Mengingat-ingat masa kecil... ada beberapa pengalaman indah yang cukup berkesan bersama Bapak dan Ibu. 

Waktu kecil, saya paling seneng ketika makan malam, bapak atau ibu menawari saya duduk di tengah tengah mereka. Kursi makan Bapak dan Ibu didempetkan, lalu saya duduk di antara mereka. Rasanya menyenangkan sekali. Kalau diingat-ingat dan dipikir-pikir, apa ya yang bikin saya segitu senang dan berkesannya pengalaman itu. Saya baru dapat jawabannya setelah saya dewasa. Setelah saya belajar di parent class yang saya ikuti di sekolah Zhafi. Ada satu quote yang saya ingat dari salah seorang pembicara, “hadiah terindah bagi anak adalah hubungan yang mesra dan kompak antara Ayah dan Ibu”. Dan quote yang lain lagi, “sentuhan bicara 1000 kali lebih banyak dari pada kata-kata ‘Mama sayang kamu’”.
Beberapa minggu terakhir ini, kalau kami jalan berempat (Ayah, Ibu, Mas Zhafi, Hanan), si kecil sering minta jalan digandeng ayah dan ibu. Dia berada di tengah-tengah. Saya berpikir... mungkin... apa yang dia rasakan sama dengan yang saya rasakan dulu ketika di meja makan (saat kecil dulu).

Pengalaman lainnya,
Saya selalu senang mengingat pengalaman waktu kecil ketika ibu membuat kue-kue kering. Saya girang ketika dipersilakan mencetak kue-kue itu dengan cetakan yang lucu-lucu, menghiasnya dengan pasta coklat di atasnya. Saya tidak ingat apakah ibu marah atau tidak dengan hasil cetakan kue saya yang belepotan. Karena pengalaman memasak bersama itu sangat menyenangkan.

Hal lain yang saya ingat, adalah serunya belanja bersama ibu sepulang sekolah. Beberapa kali seminggu, sepulang dari menjemput saya dan adik dari sekolah, saya diajak ke supermarket dan berbelanja. Kenangan tentang berbelanja itu kadang-kadang bikin kangen Ibu, terutama ketika jauh :)

28 Nov 2013

The Fun At The Bento Class

Hari ini seru juga. Ikutan kelas bento bareng pengusaha cake decorating, bunda Peni Respati. Baru kali ini ikutan belajar masak bareng. Seru... sama ibu-ibu yang berprofesi tetap sebagai ‘pengantar anak sekolah’ hihi...

Bento class kali ini simple aja. Sebenernya ngga susah, ngga perlu bahan yang mahal. Walaupun banyak juga bento dibikin lebih menarik dengan alat dan bahan yang lumayan mahal harganya. Tapi prinsipnya sih, apa yang kita punya, bisa dikreasikan untuk bento anak. Tidak perlu pake acara mendesain, membuat list bahan dan alat, memasak yang heboh. Kalau berpikir seperti itu, memasak bento bisa jadi pekerjaan berat bagi ibu yang tidak biasa.

Walau hasilnya sederhana, tapi... ilmu dan prinsip membuat bento ini, sangat bermanfaat. Pesannya, supaya bekal anak lebih menarik dan anak pun tertarik untuk memakan menu yang biasanya tidak disukai anak, seperti sayur atau buah.


20 Nov 2013

SEFTing Sariawan Si Ayah

Sepulang dari kantor, suami mengeluh bibirnya perih karena sariawan. Sedikit saja bibirnya tersenggol atau digerakkan, rasa perihnya menyerang. Saya tawarkan untuk membantu mengurangi (syukur-syukur menghilangkan) rasa sakit dan perihnya dengan menggunakan tehnik SEFT.

Setelah mengambil posisi nyaman, saya memulai terapi dengan menyampaikan bahwa segala kesembuhan penyakit hanya dari Allah, saya hanya perantara. Saya minta suami memberi rating rasa perih antara 1 (tidak sakit/perih) sampai dengan 10 (sakit/ perih sekali). Suami memberi rating 9 untuk rasa perihnya.

Setelah men SEFT-ing hingga 4 putaran, alhamdulillah, secara bertahap rasa perihnya berkurang dari 8,5 lalu 5, lalu 2, hingga akhirnya 0 atau hilang rasa sakitnya. Sehingga bibirnya yang tadi tersenggol sedikit terasa sakit, sekarang bisa bebas digerakkan lagi dan mengunyah makanan.

Subhanallah... bersyukur sekaligus takjub....
Alhamdulillah ikut training SEFT kemarin, ada manfaatnya buat keluarga ...

What Is Your Passion?

Quote yang paling menginspirasi: "I am stronger than my excuses".